Berbicara tentang santri, tentu tidak terlepas dari keberadaan pondok pesantren. Sejarah mencatat, pesantren merupakan embrio pendidikan indigenous (asli) Indonesia.
Ketika penjajahan berlangsung, Belanda melarang rakyat Indonesia melanjutkan
pendidikan ke sekolah umum. Anggapan mereka, jika itu terjadi akan membawa
permasalahan yang begitu besar. Rakyat bisa pandai dan memberontak melawan
kolonialis Belanda.
Saat itulah pesantren adalah satu-satunya pendidikan non formal yang tetap
eksis.
Empat faktor pendukung utama di dalam pesantren yaitu (1) Kyai sebagai
pengasuh sekaligus pengajar, (2) masjid/surau sebagai tempat belajar, (3) kitab
kuning sebagai bahan yang diajarkan, dan (4) santri sebagai anak didik. Tidak
ada salahnya jika dikatakan pesantren adalah hasil produk asli Indonesia.
Sebagaimana yang diungkapkan Cak Nur "Dari segi historis pesantren tidak
hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian
Indonesia". (Nurcholish Madjid, 1997).
Saat Indonesia belum
merdeka, selain menempuh pendidikan, kaum sarungan (sapaan khas santri) juga
berjuang melawan penjajah. Santri tidak segan-segan mengorbankan jiwa dan raga
untuk Indonesia. Doktrin hubbul wathon minal iman (Cinta tanah air
adalah bagian dari Iman) terpatri dalam diri mereka. Santri bagaikan pahlawan
yang gigih. Berani berkorban demi memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia
dari penjajah. Terkenang selalu jasa Bung Tomo saat memimpin pertempuran 10 November
1945 di Surabaya. Pekikan heroik "Merdeka Atau Mati" mampu menyulut
semangat arek-arek Surabaya. Ia juga dikenal sebagai santri KH. Hasyim
Asy'ari (pendiri NU). Sebelum berperang, ia meminta doa restu dari KH. Hasyim
Asy'ari untuk melawan penjajah. Berkat doa restu Kyainya, Bung Tomo berhasil
mengusir pasukan Inggris dari Surabaya.
Peran Santri Memperjuangkan
NKRI
Pesantren kini telah
membentuk asosiasi antar pesantren. Organisasi sosial keagamaan dan pesantren
membentuk RMI (Rabithah Ma'ahid Islamiyah).
Seluruh pesantren yang tergabung di RMI bersama-sama memperjuangkan empat pilar
bangsa; Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan, UUD 1945. Ini menunjukkan bahwa pesantren sudah melakukan aksi nyata dalam rangka membela dan selalu menjaga keutuhan NKRI ini. Selama
pesantren masih kokoh, Indonesia akan semakin lebih kokoh pula.
Ada stigma negatif bahwa
pesantren sebagai sarang terorisme adalah salah kaprah. Mereka yang beranggapan
seperti itu tidak tahu pasti nilai-nilai apa saja yang ada di pesantren. Penulis
selaku santri, tahu betul apa saja yang terjadi di dalam pesantren. Para santri
sangat bersahaja, seperti
makan bersama dalam satu nampan, mengantri mandi, dan tidur dalam satu tempat.
Tujuan utama pesantren selain membentuk kepribadian saleh, juga menjunjung
tinggi martabat bangsa berupa menghargai pendapat, mengenal keberagaman, dan peka
terhadap lingkungan. Nilai spritual lebih diutamakan dibanding nilai intelektual.
Karena spirit intelektual tanpa dibarengi spritual akan bobrok. Betapa banyak
kasus korupsi dari pejabat, mereka lahir dari rahim Perguruan Tinggi, mereka
pandai namun tidak dibarengi aspek spritual yang kuat. Jika hal itu tejadi,
tidak hanya merugikan rakyat kecil, namun juga memecah belah persatuan NKRI. Maka
bagi seluruh rakyat Indonesia menjaga keutuhan NKRI adalah tanggung jawab
bersama, termasuk santri. Meneguhkan nilai-nilai kebangsaan di Pesantren merupakan
bukti konkrit bagaimana santri menjaga keutuhan NKRI.
Stigma Salah Kaprah Tentang Santri
Di zaman yang semakin modern seperti
saat ini, peran santri dalam menjaga keutuhan NKRI sangat lah penting. Hal itu dapat
dibuktikan dengan melihat sejarah berdirinya Republik ini yang tidak terlepas
dari perjuangan kaum santri. Maka hal-hal yang berkenaan dengan santri sangat
disayangkan bila dipandang sebelah mata. Stigma buruk tentang Islam sebagai
kaum radikalis maupun sarang teroris haruslah di buang jauh-jauh. Hal ini dapat
dilihat dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia saat melawan penjajah. Dulu,
kata “Jihad” diartikan sebagai sebuah kata yang dapat mengobarkan dan membakar
jiwa nasionalis rakyat Indonesia dan mampu menggetarkan kaum penjajah. Namun sekarang
kata “jihad” justru diartikan sebagai kata yang mengacu pada perpecahan dan
mengarah kepada ajaran radikalisme.
Selain itu, anggapan santri sebagai kaum
yang kurang pergaulan atau tidak update terhadap perkembangan zaman, tidaklah tepat. Karena saat ini banyak
media yang memberitakan tentang perkembangan zaman yang dapat diakses setiap
santri dengan gadget yang mereka miliki. Saat ini juga banyak pesantren yang
menerapkan kombinasi antara keilmuan keduniaan dengan memadukan kurikulum
pesantren, sehingga terjadilah keseimbangan antara pengetahuan keagamaan dengan
kemajuan teknologi modern. Dengan demikian pesantren pun tak bisa dikatakan
ketinggalan zaman lagi.
Santri merupakan pondasi kokoh
yang diharapkan mampu menjadikan Indonesia sebagai negara kesatuan yang utuh
serta menjadikan bumi pertiwi yang Baldhatun
thoyibatun Warrobun ghofur. Berbagai
keilmuwan telah diajarkan kepadanya, mulai dari mengkaji berbagai kitab
kuning, mujahadah, riyadhah serta pengabdian kepada pesantren. Hal Itu
merupakan bentuk gemblengan yang diharapkan mampu menjadikan seorang santri
yang berjiwa tangguh ketika nantinya diterjunkan di sebuah masyarakat yang
penuh dengan problematika yang begitu kompleks. Kaum santri perlu memanfaatkan
keunggulan yang tidak dimiliki oleh kalangan lainya, yakni pemahaman yang dalam
akan agama islam. Karena dengan
cara inilah kemajuan bangsa Indonesia dapat diraih dan tetap menjadi bangsa
yang beradab serta selalu berada dalam bingkai Ahlakul karimah.
Santri Masa Kini
Kini santri punya
tanggung jawab besar. Tidak hanya mendalami keilmuan di pesantren, juga menjaga
keutuhan bangsa. Hal ini lebih berat dibanding meraih kemerdekaan. Penjajah
masa kini tidak berupa fisik, sebaliknya hal-hal yang menjatuhkan bangsa ini
sendiri berasal dari non fisik. Korupsi, tindak kriminal, pergaulan bebas dan hidup
hedonisme ialah bentuk penjajahan non fisik. Hal ini sebenarnya sudah digambarkan
oleh Nabi Muhammad setelah para sahabat dan kaum muslimin memenangkan perang
Tabuk. "Musuh kita lebih besar", kata Nabi. Para sahabat tercengan bukan kepalang, perang Tabuk yang begitu dahsyat
masih harus melawan musuh yang lebih besar. Sabda Nabi, "Musuh itu adalah hawa nafsu kalian sendiri". Santri harus
menjadi pioner utama untuk mengendalikan hawa nafsu. Praktek mujahadah,
riyadhah, puasa Senin dan Kamis adalah laku santri membersihkan diri
agar terhindar dari nafsu hewani. Kini santri harus membuka diri,
mempertahankan nilai-nilai kepesantrenan tetap lestari, dan menambah wawasan kebangsaan. Tentunya PR tersendiri bagi
pemerintah untuk bersinergi dengan pesantren bekerjasama menjalin hubungan yang
harmonis demi menjaga keutuhan NKRI.
Penulis:
Ihsanudin S.Hum., M.A., Ketua Bahsul Masail di Ponpes al-Luqmaniyyah dan alumnus
Magister di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.






COMMENTS