“Manusia dalam mengarungi samudera kehidupan di dunia ini tentu tak
bisa jauh dengan manusia lainnya. Saling membantu dan melengkapi satu sama lain.
Bersosial adalah satu-satunya pilihan agar hidup menjadi indah nan penuh warna.
Seperti halnya pelangi dengan perpaduan warna yang berbeda-beda padanya. Karena
justru dengan perbedaan warna itulah yang membuat pelangi nampak indah
dipandang manusia di atas bumi ini.”
Kehebohan perayaan Hari Santri Nasional yang belum sampai setahun
yang lalu tentu masih ada di benak teman-teman santri. Tentu, karena perayaan
hari santri ini masih terbilang baru dan menjadi rintisan program kerja Kementerian
Agama.. Semoga peringatan Hari Santri yang akan diadakan pada tahun ini tak
kalah meriah dan semakin meningkatkan kualitas para santri Indonesia tentunya. Dengan
perayaan tersebut, tentu sangat meriah dan antususiasme para santri sangat
terlihat. Banyak even dan lomba pada saat itu. Salah satunya dimeriahkan oleh
adanya kompetisi Duta Santri Nasional. Penilaiannya tak hanya dari faktor
cantik dan tampan saja, melainkan kecerdasan dan hal lain yang tentu para juri
yang lebih paham.
Jika di pesantren-pesantren seantero nusantara ini heboh dengan
adanya pemilihan duta santri beberapa waktu yang lalu, di PPLQ (sebutan untuk
Ponpes Al Luqmaniyyah) sendiri pun tak mau kalah hebohnya. Beberapa bulan lalu,
tidak lama setelah perayaan Hari Santri Nasional, ada gelar “duta” di PPLQ. Dua
istilah duta baru tersebut adalah “Duta Kantin” dan “Duta Kondangan.” Duta
Kantin yang diberikan oleh Lamasta Grup, nama BUMP (Badan Usaha Milik
Pesantren) di PPLQ dan predikat Duta Kondangan yang diberikan oleh LPPM
(Lembaga Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat) sub bidang Alumni dan Santri.
Gelar Duta Kantin diberikan karena keseringannya membeli di kantin pesantren sedangkan
Duta Kondangan disematkan karena sering ikut dalam acara kondangan ke
pernikahan santri ataupun para alumni. Memang sedikit unik, meskipun juga tak
begitu menarik bagi sebagian orang.
Salah satu duta tersebut yang dalam hemat penulis menarik (bukan berarti
yang lain tidak menarik) adalah Duta Kondangan. Akhmad Ali Mukhlis, penyandang
gelar “Duta Kondangan” tersebut. Ia merupakan salah satu santri di PPLQ ini
terkenal dengan kegokilan dan kekocakannya di manapun dan kepada siapapun.
Dalam situasi dan kondisi apapun. Bahkan ketika dalam suasana serius pun, ia
masih bisa mencairkan suasana. Kang Muklis, begitu ia akrab dipanggil. Santri
asal Jambi yang saat ini menginjak tahun keenam di pesantren.
Setiap orang, bahkan setiap santri tentu memiliki kelebihan dan
kekurangan yang melekat pada dirinya. Pandangan setiap santri pun berbeda-beda.
Tergantung dari sudut mana ia memandang dan kepada siapa yang dipandang. Begitu
pula dengan pribadi yang satu ini. Ia mengakui bahwa dirinya memang tidak bisa
apa-apa. Baik dalam hal ngaji di pesantren maupun di perkuliahan. “Karena
saya merasa tidak bisa apa-apa, pokoknya prinsip saya bisa membuat orang lain
tertawa”, katanya. Namun dibalik kekurangannya tersebut, ada sisi menarik
dan unik di dalam dirinya. Prinsip yang patut dicontoh oleh para santri
lainnya. Prinsip itu ia dapatkan dari nasehat ayahnya, “Lakukanlah apapun yang
kamu bisa untuk orang lain, semampumu”, begitulah prinsip yang selalu ia
pegang hingga saat ini. Mungkin dua prinsip inilah hingga membuat ia dijuluki
Santri Hore oleh para santri putra PPLQ. Prinsip selalu menciptakan kelucuan
dan tawa sehingga orang lain dapat tertawa bahagia pula.
Lalu apa kaitannya dengan predikat Duta Kondangan? Setelah ditanya
tentang apa motivasinya selalu ikut setiap kali ada acara pernikahan santri
atau alumni, ia mengatakan bahwa dirinya ingin selalu serawung dan ingin
hidupnya berkah. “Mumpung masih di Jawa, serawung, agar hidupnya berkah.
Saya sudah izin bapak kalau aku ingin selalu ikut kondangan, dan itu beliau
izinkan”, tambahnya. Nabi
Muhammad pernah bersabda, “Kun aliman, au muta’alliman, au mustami’an, au
muhibban, wa la takun khomisan, fatahlik!”. Jadilah kamu pengajar,
atau pembelajar, atau pendengar, atau pencinta, dan jangan jadi (golongan) yang
kelima, maka kamu akan rusak.
Jika melihat hadits ini dan kita
kaitkan dengan hal di atas, mungkin Kang Mukhlis ini bisa masuk pada kategori
yang keempat, yaitu Muhibban (orang yang mencintai ilmu dan ahli ilmu).
Jangan sampai menempati urutan yang terakhir, yaitu orang yang membenci pecinta
ilmu, mengganggu ulama, dan tidak menghormati siapapun yang sedang dalam proses
mencari ilmu (santri). Semoga bermanfaat dan bisa diambil hikmahnya. “Undzur
maa qoola wa laa tandzur man qoola.” Lihatlah isi dari sebuah perkataan,
jangan melihat siapa yang mengatakannya. (Ipin dan Kharis).






COMMENTS