![]() |
| google.com |
Oleh : Nizar El Malisi
“Tidak
bisa, pokoknya kamu harus melaksanakanya sekarang juga !!!” bentak Pak Kyai
Ridwan. Suaranya bagai kilatan petir, menggelegak bagai lahar yang meluap-luap
dari bawah gunung berapi, tak pernah sekalipun beliau bicara sekeras itu,
wajahnya berubah angker sepeti monster, sifat bijaksana beliau yang seperti
biasanya seperti sirna ditelan bumi, wajahnya yang selalu tersenyum berubah
merah menyala, sorot matanya tajam
memandangku, aku tak bergerak sedikitpun, bagaimana mungkin beliau sampai
sebegitu marahnya, pikirku. Pancaran cahaya ruangan itu menikam rambut beliau
yang sudah putih beruban, seperti sinar laser, putih berkilauan, melesat-lesat
menerobos hingga ke sudut bola matanya yang tajam, alisnya yang lebat hitam
pekat menakutkan, ngeri. tubuhku yang memang agak kurus, menggigi, aliran napas
terasa sesak mendengus-dengus, tak berdaya sama sekali.
Sejujurnya
aku memang terbiasa mengalami sesuatu yang menegangkan ataupun menakutkan, baik
itu karena melanggar aturan pondok pesantren maupun berhadapan dengan para
dosen dan professor di kampusku ketika bernegoisasi untuk menyelamatkan absen
kuliahku, yap, aku memang cerdas untuk situasi semacam itu, mungkin. Bisa
dibilang paling kreatif interaktif dan inofatif di antara semua teman-teman
kakekku,hehe,,, biasanya, ada saja sesuatu atau ide yang muncul di kepalaku,
semacam taktik khusus untuk bertahan hidup, semacam naluri,insting
mempertahankan diri disaat saat genting seperti ini, tapi kali ini lain, aku
benar benar mati kutu, tak ada tanda tanda kehidupan dari kegeniusanku
sedikipun, punggungku basah kuyup karena keringat dingin, aku hanya menundukan
wajah ke lantai, menundukan leherku, seperti orang setengah sujud, persis
beruang kutub utara.
Ruang
tamu ini memang selalu dihormati para santri, tempat dimana aku berada
sekarang. Meskipun menundukan wajah, aku tetap bisa merasakan hawa mengerikan
di ruangan kecil ini, kecemasanku bertambah dahsyatnya karena melihat
bidadariku yang amat resah, beban perasaan itu seakan menjalar ke seluruh
tubuhku, kulirik Si Mega yang berada tepat disampingku, sedemikian khawatirnya
sampai tak mempedulikan peluh yang mengalir masuk ke pelupuk matanya, wajahnya
tegang, gerak geriknya gelisah, dia tepat berada di sampingku, matanya lembab
karena banyak mengeluarkan air mata, pandanganya begitu putus asa, meski masih
saja terlihat cantik, hidungnya mancung
memerah menahan tangis, di sudut ruangan ada ketua keamanan, dan lurah pondok yang biasa di panggil Pak Ayif, mereka
hanya bisa diam terpaku, sekaligus menahan rasa marah bercampur dendam
terhadapku , baru kali ini Pak Kyai sebegitu marahnya.
“Abah
kita tunggu saja orang tuanya Syafi'i,” Ibu Nyai Hannah yang tepat berada
disamping Pak Kyai mencoba menenangkanya dengan sedikit tersenyum, senyumnya
getir, tampak sekali di paksakan karena aku bisa melihat beliau juga cemas
melihat kemarahan Abah agaknya sudah tidak terkendali, wajahnya terlihat berat
layaknya orang yang berempati layaknya suami istri, batinya tertekan,”Abah,
wudhu dulu ya??” timpalnya sekali lagi.
Namaku Syafi'i, semua berawal dari
kecerobohanku. Mungkin juga kebodohanku, tapi aku anak yang soleh lo, hehe,,
Aku seorang santri yang sedang mondok di suatu pesantren di daerah Yogyakarta. Sore
itu, setelah selesai kuliah sore, aku mengajak jalan-jalan Mega ke tempat
seperti biasannya. Betul sekali, dia teman dekatku, sangking dekatnya terkadang
aku sampai lupa bahwa dia hanya teman. Bagaimana tidak, dia begitu sempurna
wajahnya, cantik untuk ukuran bidadari yang sengaja Allah turunkan untuk
menghibur hambanya yang awam ini, begitulah pikirku.
Dia benar-benar menjelma
menjadi bunga mawar di tengah pahitnya kehidupan. Senyumnya sumringah selalu
terlihat ceria, demikian pula bau
pakainya harum semerbak melati, corak kerudungnya pun begambar bunga, raut
wajahnya lembut, tak pernah terlihat lelah, energinya selalu penuh semangat
hingga menjalar padaku laksana sengatan
listrik, begitulah pikirku. Dia satu pesantren denganku, pesantren yang
didirikan tahun 2000 -an oleh salah satu alumni santri pondok pesantren
Tegalrejo, Magelang. Oleh sebab itu, aturan di pondokku cukup keras.
Peraturan
pondok yang super ketat, membuat Mega Retna Sari, menjadikan hatiku sedikit terobati dan nyaman menjalani hidup di
pesantren, akhirnya suatu ketika megapun mau kuajak jalan jalan, hanya jalan
jalan saja, titik. kami berhenti di sebuah tempat duduk dekat taman, kami
ngobrol ngalur ngidul, berbagi cerita masa kanak-kanak, dan terkadang
membicarakan ketua keamanan yang semakin memperketat peraturan pesantren. Hanya
itu saja, kami tidak seperti kebanyakan pacaran anak pacaran zaman sekarang
yang harus pegangan tangan, ciuman, bahkan sampai …. astaghfirullah ...saling
tidur meniduri…....
Tak
terasa sudah jam tujuh isya, bumi seperti mempercepat putarannya,”Kalau saja
aku punya kantong doraemon??” kataku dalam hati. kami pun harus pulang jika
tidak ingin tercium radar pelacak di pesantren, pengurus keamanan, mereka bukan
sembarang orang, terlatih, dialah musuh yang ke dua setelah dajjal sang
pemfitnah, bagi sebagian santri, yang jelas bukan aku, karena aku anak sholeh,
memang berlebihan, tapi begitulah adanya. Sebelum pulang, aku mengecek
ponselku, sebuah panggilan tak terjawab terpampang dilayar hpku, aku langsung
terkejut ketika melihat 3 panggilan tak terjawab dengan nama kontak anjing,
empat pangggilan tak terjawab dari orang tuaku, dan satu panggilan tak dikenal.
Aku
tidak mengatakan apapun pada Mega supaya tidak khawatir, dia sendiri HPnya
telah mati sejak Ashar tadi, jadi dia tak sempat membuka hp-nya, seperti
biasanya kami pun pulang ke pesantren lewat jalan agak sempit dibelakang pondok
yang tidak dilalui oleh para santri. Baru memasuki gang sempit sekitar 10
meter, aku dikagetkan oleh dua orang
memakai jaket hitam-hitam, badannya tegap, dia tak lain, dan tak bukan, dan tak
asing,,,,,adalah si ketua anjing, ketua keamanan pondokku bersama dengan Kang
Almas yang tak kalah galaknya, dia langsung menghadang tepat di depan
motorku,”berhenti….berhenti…..stop….,” bentak Kang Almas bagai anjing
menggonggong, aku refleks menjawab “Kang kami cuma habis belajar kelom…..”.,
tapi Ia langsung memotong perkataanku.
“Kalian
berdua ikut kami”, katanya, “Kang aku yang ngajak Mega, dia tidak salah, aku
saja yang ...”,
“Jangan banyak bacot kau, kalian ikut kami”,
nadanya lebih tinggi kali ini. Akupun pasrah digelandang menuju tempat
persidangan.korlek, kantor komplek. Tapi alangkah kagetnya diriku ketika
ternyata tempat yang di tuju adalah ke rumah ujung selatan yang mana adalah
rumah Pak Kyai.
Terlau
banyak melakukan pelanggaran, tidak ada toleransi lagi, jam tanganku menunjuk
angka 10 malam, dua jam lamanya aku
berada di sudut ruangan itu, sepertinya beliau sudah tak bergairah lagi
melihat wajahku, secepat terkaman harimau, secara amat mendadak, bagai
terenggutlah segala angan ku, impianku, cita cita masa depan sirna aku kaget
bukan main ketika melihat secarik kertas yang Pak Kyai berikan kepada keamanan
dan sudah kupegang, lalu aku di suruh membacakan di depan seluruh santri.
Terpampang
jelas tulisan nomor satu itu, “Saya akan menikahinya… kurang dari satu minggu
di mulai dari detik saya mulai membaca surat pernyataan ini”.
Kakiku
terasa kaku, ingin sekali rasanya aku menjejal jejalkan kakiku untuk menendang
apapun di ruangan itu, ingin kuraih kerah baju lurah pndok itu sampai kancing
kancing bajunya putus berserakan, emosiku memuncak, meronta ronta, ingin ku
muntahkan segala apa yang ada di kepalaku, kulontarkan segala kebencian di ubun
ubunku ingin teriak sekencang kencangnya dan, aku ada di sana, masjid pondok
tempat aku bermujahadah, tapi tidak untuk hari ini, seluruh santri putra putri
telah berjejer rapi seperti bebek, menyambutku, bukannya mendapat simpati, aku
justru disorak soraki, dimaki, dicaci, dibully, bahkan ada yang sampai
melemparkan pecinya hingga mengenai kepalaku, barulah mereka berhenti ketika
Pak Kyai dan para pengurus telah hadir di masjid itu, mulutku terasa kaku
ketika ku mulai membaca surat pernyataan itu, tujuh hari lagi harus sudah
menikah tapi sampai detik inipun aku tidak memiliki apa apa, aku membatin.
Aku
menarik napas dalam, satu dua tarikan. Tiba tiba keanehan terjadi begitu saja
ukiran-ukiran kaligrafi yang menempel di tembok berjatuhan, lampu masjid itu
satu persatu pecah berantakan, gumpalan awan hitam masuk memenuhi ruang itu,
satu persatu santri melebur, hilang, lenyap, entah kemana kertas di tanganku
meliuk-liuk terbang bersama dengan segala benda ruangan itu, saling
bertubrukan, berguling guling, seperti angin topan , ribuan cahaya memancar
saling berhamburan, hanya ada satu cahaya putih yang mampu menembus keriuhan,
aku hanya terdiam, tak kuduga menara mesjid yang kokoh itu limbung, melesat
cepat, menubruk gumpalan gumpalan yang terus berputar, tepat kebawah di atas kepalaku, hampir pasti
aku mati akan tertindihi menara itu.
Aku
tak sempat punya waktu untuk berpikir, apalagi menghindar, aku pasrah,
sepertinya tidak lama lagi, aku akan mati tertimbun, seakan hanyut di telan
lautan, terhimpit diliang lahat, sesak napas tak ada udara, angin, air .
semuanya akan lenyap, musnah, hilang dalam sepersekian detik dan
,,,,bruuuuuk,,,,brukkkkk!!!!! ,, semuanya lenyap, aku menatap cahaya putih di
kamarku, kulihat sekelilingku, sudah sepi, Kemudian Kang Aldo membangunkanku, “kang kang mujahadah kang ,kang,,,,,,,” sambil
menepuk nepuk pundakku agak keras karena sudah setengah empat lebih, dan akupun
mujahadah seperti biasanya.
Masih
bernyawa, “mungkin ini adalah peringatan untuku agar lebih bertakwa dan
meningkatkan kesholehan” gumamku . (almalisi)






COMMENTS