Oleh : Syarifuddin Musthofa
Kerap muncul dalam kehidupan
mahasantri sebuah pernyataan “kita harus meninggalkan sesuatu yang kita sukai,
dan melakukan sesuatu yang tidak kita sukai”. Meninggalkan
kesukaan dan melakukan ketidaksukaan tersebut mungkin relevan jika awalnya kita
menyukai maksiat. Kita meninggalkan maksiat untuk melakukan taat. Pada
kenyataanya, Mahasantri menyukai ngaji, diskusi dan segala macam bentuk kajian
keilmuan Islam serta tidak menyukai maksiat. “Apakah berarti kita harus meninggalkan ngaji dan
melakukan maksiat?”.
Mungkin diantara pembaca saat ini sedang
berfikir “Bodoh banget sih, penulis ini,
masa kayak gitu masih dibahas, kaya anak TK aja….”. lhooo … kalo anak TK aja bahas
kayak gitu, masa mahasantri gak pernah bahas sama sekali, kalah dong sama anak
TK?.
Jika memang akan dibahas, pertama
kita bahas istilah suka. Suka atau
kesukaan biasa digunakan secara Interchangeble dengan kata lain dalam
berbagai keadaan. Pernahkah Anda menemukan kata kesukaan, ketertarikan, kecintaan,
keinginan, sayang, nafsu, minat, dll dalam sebuah kondisi yang ambigu? (Tentu
saja). Ambilah semisal nafsu/Lust/Desire/Eros /Syahwat yang sebenarnya bisa diartikan dengan romantisme cinta atau cinta berdasar seksual atau
perasaan jasmaniyah (belum-belum udah bahas ginian, Mau gimana lagi !!! buat
menarik perhatian).
Kemudian ada keinginan/Agape/Roghbun-
fi/enthusiasm memiliki makna terdekat dengan keinginan manusiawi yang
sifatnya lebih umum dan netral. Selanjutnya sayang/storge/love/hubun/’aziiz lebih
unik karena maksudnya adalah perasaan kasih sayang terhadap kerabat, keluarga
dan sahabat.[1]
Yang menjadi
pembahasan utama dalam tajuk ini adalah sesuatu yang dinamakan Passion dalam
bahasa Inggris, Syughifa/Sya’ifa dalam bahasa Arab, Philia dalam
bahasa yunani kuno atau Minat dalam
bahasa Indonesia. Berbagai kata tersebut memiliki kesamaan arti yaitu
ketertarikan spesial terhadap sesuatu disertai dengan loyalitas.
Tidak perlu dipungkiri dan tidak bermaksud
untuk menyombongkan diri, Mahasantri pondok pesantren Al-Luqmaniyyah memiliki
minat belajar yang tinggi. Buktinya, mereka mau buka kitab tengah malam, sedang
orang lain sedang enak-enaknya tidur. Pada tanggal 31 Desember 2016 dan 1
Januari 2017 Mahasantri tersebut juga mengaji, sementara yang orang lain saling
berpasangan menyambut tahun baru. Mungkin memang mereka melakukan semua itu
karena terpaksa, atau mungkin mereka memang memiliki Passion untuk mengaji
ketimbang pesta hura-hura. Sooo… Kembali ke pertanyaan awal “haruskah kesukaan
itu ditinggalkan?”. Jawabanya pasti “tidak”, karena hal tersebut merupakan
kebaikan.
Dengan tidak bermaksud membahas lebih jauh
mengenai kebaikan, tidak bisa terelakan hal tersebut menimbulkan pertanyaan
lagi.
“Darimana kita tahu hal tersebut itu baik?
“Ya karena diperintahkan oleh kanjeng Nabi
SAW lah”
Terus timbul pertanyaan baru. “Apa hubungannya,
belajar berpanas-panasan, sumpek, gerah, lama, dengan perintah Nabi, bukanya
malah mendzolimi diri sendiri?”. “Bukankah mendzolimi diri sendiri itu
dilarang?”.
Memang benar belajar tidak harus dengan
cara berpanas-panasan dan menyiksa diri. Bisa saja kita belajar diluar ruangan
yang sejuk dengan berbagai macam tumbuhan yang menghiasi, bisa saja mereka
keluar dengan alasan mampu mengambil ilmu pengajian sambil bermain dan berpesta
di luar. Bisa juga malah gak usah ngaji karena ngaji merupakan pendzoliman
terhadap diri sendiri.
Tanpa perlu disebutkan berbagai macam
dalil, Mahasantri sudah tahu bahwa mendzolimi diri sendiri merupakan hal yang
dilarang dalam agama Islam. Mahasantri tetap melakukan kegiatan melelahkan dan
menyiksa tersebut disebabkan karena sangat sayangnya mereka terhadap diri
sendiri, orang tua, guru, pengasuh serta tentu saja merupakan perwujudan rasa
sayang mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Demi menunjukan rasa sayangnya, Mahasantri
baik secara terpaksa atau suka rela tidak mau meninggalkan suasana yang
melelahkan tersebut. Hal tersebut merupakan bentuk pengorbanan dari Passion yang
mereka pilih.
Phillia merupakan sebuah bentuk loyalitas tinggi. Layaknya
sebuah tisu yang Hidrophil (baca Hidropillia = benda
yang suka terhadap air), mereka siap menyerap semua sumber mata
air ilmu sampai mereka basah kuyup. Tidak layak bagi siapapun untuk mencapuri sumber
air tersebut dengan berbagai macam zat (yang mungkin dianggap baik) yang malah
merusak kekuatan tisu. Layaknya tisu yang sudah basah untuk pembersih galon mineral, mereka
tidak akan digunkan untuk membersihkan noda tinta hitam dari spidol atau pena.
Mereka lebih kuat dibanding dengan tisu pembersih kering merk apapun. Jadi,
biarkanlah mereka menyerap apapun sesuai kehendak mereka. Biarkan mereka
menjadi tisu basah pembersih galon mineral yang bertugas menjaga kemurnian sumber air ilmu dalam galon. BIARKAN
MAHASANTRI MEMILIKI RESOLUSI TAHUN 2017 SUKA-SUKA MEREKA.
[1] Ken Robinson- Finding
Your Element, almaany.com dan Mu’jam Mufasol fi Tafsir Ghoribil Quranil Karim






COMMENTS