Status sebagai seorang santri dan profesi jurnalis tak dapat dipisahkan begitu
saja. Keduanya pun dapat berjalan beriringan dan berdampingan dengan baik jika
mau mengkolaborasikan keduanya. Seorang santri yang selalu identik dengan ilmu
keagamaannya, tak juga selalu setiap santri berbakat atau perfect dalam
ilmu keagamaan yang diberikan oleh pondok pesantren.
Namun ia juga bisa menekuni
bidang kepenulisan atau aktif dalam kegiatan jurnalisme. Kegiatan yang ada di
pondok pesantren dari bangun hingga tidur lagi selalu disibukkan dengan hal-hal
yang positif dan bermanfaat, semua sudah terjadwal dengan teratur. Sehingga
waktu bagaikan pedang yang siap diasah dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk
menebas segala kemungkinan di masa depan. Sebagai seorang jurnalis juga dituntut
untuk dapat mengemban tugasnya secara maksimal dan bertanggung jawab. Seorang
wartawan dalam melaksanakan tugas kejurnalistikannya pun dituntut untuk selalu
menyajikan berita dan yang bagus dan bermanfaat bagi banyak orang.
Selain itu
juga seorang wartawan atau jurnalis harus memlilki beberapa sifat-sifat sebagai
seorang wartawan yang ideal. Sebagaimana dalam buku yang ditulis oleh Luwi
Iswara, “Jurnalisme Dasar” menyebutkan bahwa sebagian ciri-ciri yang harus
dimiliki seorang jurnalis adalah sifat skeptis. Sifat skeptis inilah yang
menjadi ciri khas jurnalisme. Dikatakan oleh Tom Friedman dari New York
Times bahwa skeptis merupakan sikap dimana seseorang selalu mempertanyakan
segala sesuatu, selalu ragu terhadap yang apa yang mereka terima, selalu
mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah ditipu. Jadi, inti dari sikap
skeptis adalah keraguan dan selalu mencari-cari kebenaran secara mandiri.
Selain itu, sikap lain yang harus dimiliki seorang jurnalisme adalah sikap
untuk selalu action. Kedua sikap ini juga sangat sesuai dengan seorang
santri yang memang sesuai dengan sikap seorang santri yang ideal. Seorang
santri yang ideal akan selalu action atau bertindak menggunakan waktunya
secara maksimal, tak menyia-nyiakan waktunya hanya untuk berleha-leha dan bersantai.
Dalam kehidupan pondok pesantren para santri tentunya sudah biasa dengan
tuntutan untuk selalu bisa betindak dan selalu sigap terhadap segala aktivitas
yang ada di pondok pesantren. Hal ini jika diintegrasikan dengan profesi
jurnalis atau wartawan tentu akan efektif, karena wartawan juga tak akan
menunggu sampai suatu peristiwa muncul, namun ia harus segera mencari
berita dan mendatangi suatu kejadian dil luar meja redaksi. Jika seorang
wartawan hanya berada di dalam gedung
atau duduk-duduk saja tentu ia tak akan mendapatkan berita atau mendapat
berita namun tak sesempurna dibandingkan jika ia mengunjungi tempat kejadian
dan menjadi pengamat pertama suatu peristiwa.
Sikap kritis yang ada pada diri santri juga hendaknya bisa disalurkan ke
dalam suatu wadah yang pas sehingga nantinya tidak ngawur dalam menyampaikan
argumennya. Dari sinilah mengapa perlu adanya pengetahuan mengenai
kejurnalistikan atau pers bagi santri. Selain mengetahui tentang pers dan
jurnalis tentunya untuk menuangkan gagasan-gagasannya diperlukan juga suatu
media yang bisa menampung aspirasi-aspirasinya. Maka dari itu, perlu untuk
masuk dan aktif dalam suatu lembaga pers yang dapat menampung segala pikiran yang
ada di dalam kepala. Seperti dengan aktif di majalah ataupun bulletin pondok
pesantren, maupun lembaga pers di kampus atau media lain sejenisnya. Diharapkan
dengan masuk dan aktif dalam dunia kepenulisan, seorang santri bisa
mengembangkan bakat menulisnya dan akhirnya tak selalu melulu menyampaikan
aspirasi yang ia miliki dengan tindakan anarkis yang kurang etis, melainkan
dengan berpikir kritis dan logis sehingga timbul suatu gagasan ataupun tulisan
yang bisa dijadikan sebagai media dakwah.
Selamat Hari Pers Nasional.
*Oleh : Syahreza Kelvin






COMMENTS