Oleh : Jizala dan Kharis
Sejuknya udara pagi
membuat suasana perkampungan di daerah Sedayu, Bantul terasa damai. Setelah
melewati beberapa hutan dan asrinya alam sekitar, sekitar pukul sembilan kami
sampai di depan sebuah rumah sederhana samping masjid yang tak begitu besar
dengan sebuah papan nama di depannya yang bertuliskan Pondok Pesantren Al
Fitroh. Di samping masjid berjejer beberapa ruang kecil, di situlah tempat para santri tinggal. Tujuan kami adalah rumah Pak Kyai Qomar, begitulah beliau lazim dipanggil. Setelah dipersilahkan
oleh seorang santrinya, kami pun masuk ke rumah beliau.
Perawakannya yang terlihat
kurus, sekilas bisa ditebak bahwa beliau adalah ahli tirakat dan riyadhoh.
Dengan sebatang rokok terselip di antara kedua jarinya, beliau berjalan santai
kemudian menghampiri dan mempersilahkan kami duduk. Keramahan dan kesederhanaan
beliau tampak sekali dari cara beliau menyambut tamunya. Kami pun mengutarakan
maksud kedatangan kami untuk berbincang-bincang, tepatnya mengaji. Berharap dapat
menimba sedikit ilmu dari beliau. Mungkin bagi teman-teman santri putra Al Luqmaniyyah yang biasa ikut
rutinan Jum’at Pahing di Rumah Bapak H. Maftuhin Gamping, Sleman tentu tidak asing
dengan beliau. Beliau lah yang mengisi pengajian di acara rutinan sholawatan tersebut.
Sekilas tentang Kyai Qomar
Beliau memiliki nama lengkap Muhammad Abdullah Qomaruddin, lahir di Magelang
5 Desember 1970. Tepatnya di dusun Grabag. Putra ke tujuh dari sembilan
bersaudara. Ayah beliau
bernama Muhsan, menghabiskan pendidikan pesantren selama 25 tahun tanpa
pendidikan formal sama sekali, bahkan tidak bisa membaca tulisan latin. Namun ayah Kyai Qomar ini sangat mahir bahasa Arabnya. Sedangkan ibu bernama Misra yang masih keturunan Kraton
Solo. Simbah-simbah beliau pun merupakan orang-orang sholeh semua.
Pendidikan formalnya beliau habiskan di SD
Muhammadiyyah. Setelah lulus Sekolah Dasar, beliau tidak melanjutkan sekolah
lagi karena merasa tidak cocok dengan apa yang diajarkan di sekolah formal. Akhirnya beliau memutuskan untuk berhenti dari sekolah dan ingin mondok saja. Pada
saat usia 15 tahun, beliau dinasehati oleh ayahnya. Nasehatnya sangat
sederhana, “Jangan pernah
tinggalkan sholat. Karena dirimu sudah memasuki usia baligh, semua kewajiban agama
sudah menjadi tanggunganmu”, begitu kata
beliau menirukan perkataann ayahnya saat itu. Meskipun sepels dan sederhana,
nasehat dari ayahnya itu selalu terngiang dalam telinga.
Beliau menghabiskan masa mondoknya selama kurang lebih 15 tahun yang tidak
hanya pada satu pondok saja, melainkan beberapa pondok pernah beliau timba
ilmunya, yaitu 8 tahun di daerah Ndemesan, Magelang di pondoknya Kyai Asy’ari
yang menurunkan banyak kyai-kyai di daerah Jawa Tengah, kemudian di Wonosobo selama
5 tahun, setelah itu di Trenggalek 2 tahun, di tempatnya Mbah Kyai Ibrahim yang
merupakan santri angkatan pertama KH. Chudlori Tegalrejo. Beliau menikah pada tahun 2000. Istri beliau bernama Siti Mudawamah yang
berasal dari Purworejo. Pada saat itu
beliau tidak tahu siapa calon istrinya tersebut. Hanya dijodohkan oleh kyainya.
Saat ini beliau dikaruniai 1 putra dan 3 putri, yaitu Arina, Wildan, Afina,
dan Atina.
Berangkat dengan berbekal keyakinan
Dikarenakan tidak mempunyai bekal yang cukup, pada waktu itu beliau berangkat
menuju pondok yang di Trenggalek, Jawa Timur dengan berjalan kaki. Beliau ingin
membuktikan sebuah hadits, “barangsiapa yang belajar ilmu agama hingga
benar-benar faham, maka apa yang menjadi kebutuhannya Allah akan mencukupi dan
memberinya rezeki yang tak terduga datangnya”. Bahkan beliau sempat
berniat untuk menyobek kitab-kitabnya
jika lantaran berjalan itu beliau mati kelaparan. Namun karena beliau yakin,
sampailah ia di pondok tersebut dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.
Bahkan beliau sampai gerbang pondok bersamaan dengan para santri yang
menggunakan bus, yang juga ternyata berasal dari daerah yang sama dengan Kyai
Qomar.
Saat ini beliau mengasuh Pondok Pesantren Al Fitroh, yang beralamat
di Jl. Wates, RT 52, Perengwetan, Argorejo, Sedayu, Bantul. Pesantren yang
beliau dirikan ini memang tidak terkenal dan besar. Namun nila-nilai
kepesantrenan salafnya begitu kental. Jumlah santri yang tak lebih dari 30
orang, membuat suasananya begitu tenang dan damai. Ditambah dengan suasana
asrinya perkampungan, seakan pondok dan
alamnya menyatu.
Beliau memiliki prinsip bahwa saat ini yang harus berjuang adalah kyainya.
Karena pada zaman sekarang jika kyai yang diam, justru tak akan ada santri yang
mau mondok lagi. Kebanyakan orang tua beranggapan sekolah formal lah yang akan
membuat hidup enak dan sukses. Akan tetapi beliau tetap berprinsip bahwa mondok
dan mengaji lah yang akan membuat seseorang itu hidup. “Ora mungkin santri
iku mati keluwen (Tidak mungkin santri akan mati
kelaparan)”, kata beliau menegaskan.
Cara Mendidik Para Santri
Beliau dalam mendidik santrinya tidak hanya dengan ucapan semata, melainkan
langsung dengan tindakan nyata. Beliau menggunakan metode yang berbeda dengan
pondok-pondok kebanyakan. Beliau menyuruh santrinya untuk menggembala ternak, karena dengan menggembala ternak
dapat membuat hati santri menjadi terbuka dan peka terhadap ternaknya. Dengan
mengerti dan memiliki sifat kasih sayang terhadap hewan itulah maka dengan
sendirinya akan menumbuhkan sifat kasih sayang kepada sesama manusia juga.
Hewan ternak yang biasa digembala oleh para santrinya tersebut seperti ternak
bebek, kambing, dan ayam.
Ciri khas dari pondok yang diasuhnya ialah pembedaan antara santri putra
dan putri. Selain mengaji kitab dengan beliau langsung, santri putra diberikan
tugas untuk khidmah dan bekerja keras. Sedangkan santri putri kebanyakan
menghafalkan Al Qur’an, karena santri putri yang akan lebih banyak di rumah
saja, berbeda dengan laki-laki yang mempunyai kewajiban mencari nafkah untuk
keluarga nantinya. Meskipun beliau tidak menafikan bahwa barokah al Qur’an itu penting
juga.
Dalam mengasuh para santrinya, beliau tidak meminta imbalan sepeserpun.
Semua santri yang ada yang penting bisa makan semua. Selain itu, beliau juga sangat
hati-hati dalam menggunakan uang. Apakah uang hasil pekerjaan yang subhat atau
benar-benar halal. Beliau mengibaratkan santri dengan motor. Sedangkan
bensinnya adalah sesuatu yang masuk pada diri santri tersebut. Jika bensinnya
bagus dan bersih maka motornya pun akan berjalan dengan mulus pula. Sedangkan
jika bahan bakar motornya saja kotor penuh sampah maka motornya pun tak akan
berjalan bahkan mogok di jalan. Begitu pula dengan santri, jika makanan yang
masuk ke dalam tubuh tidak benar-benar halal, maka pikiran serta tindakannyanya pula akan buruk.
Beliau berprinsip bahwa segalanya bergantung pada Allah. Harus benar-benar
pasrah kepadaNya. Yang penting adalah bagaimana memperoleh ridho dari Allah.
Bahkan pernah, beliau saat akan pengajian belum ada makanan sama sekali, karena
yakin rezeki akan datang pada saatnya maka pada saat akan pengajian makanan pun
datang dengan sendiri. Entah dengan cara apa dan dari mana datangnya. Karena
beliau juga yakin bahwa jika ada sebuah majelis dan di sana terdapat banyak orang,
maka di situlah rezeki akan diturunkan. “Kuncinya yakin dan bergantung hanya
pada Allah”, imbuhnya dengan mantab. Prinsip hidup beliau yang sangat sederhana namun berat bila dilaksanakan adalah “Hidup itu
hanya perjuangan, apa
yang saya miliki
semuanya adalah untuk Islam”, tandasnya.
Jogja, Februari 2017






COMMENTS