Menurut
sebagian besar santri keputusan tersebut dianggap keputusan sepihak. Santri
yang sebagian besar Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga merasa keberatan atas
keputusan DP PP al-Luqmaniyyah. Hal tersebut dikarenakan libur pondok dengan
kampus yang tidak bersamaan. Hal inilah yang menyebabkan sedikit memanasnya
suasana santri.
Santri
yang merasa kangen dengan orang tua (mungkin), melakukan aksi pembantahan.
Memang pembantahan tidak dilakukan secara langsung akan tetapi dilakukan lewat
social network “facebook”.
Berbagai
tekanan dilancarkan santri kepada DP agar mengubah planing waktu Imtihan. Tak
perlu disebutan nama-nama santri santri yang merasa tidak setuju dengan
keputusan tersebut, mungkin penulis juga salah satu santri yang merasa tidak
setuju.
Ada
salah satu santri yang merupakan mahasiswa universitas swasta yogyakarta merasa
bahwa dirinya risi dengan keluh kesah santri. Dia bercerita bahwa selama
dirinya bermukin di LQ, libur pondok dengan libur kampus memang tidak pernah
bersamaan, jadi dia sudah terbiasa dengan kata tidak bisa pulang.
Salah
satu ustadz juga berkomentar bahwa libur pondok dengan libur kampus memang
tidak bisa bersamaan. Karena Pondok menggunakan kaldik Hijriah yang artinya
liburnya bulan Maulid, sedangkan kampus menggunakan kaldik masehi yang artina
libur di bulan januari.
Sang
ustadz juga mengatakan bahwa Pondok tidak akan mengikuti kampes. Begitu juga
sebaliknya. Qola ustadz tersebut yang akhirnya bisa menurutkan tuntutan santri.
Santri
lainnya juga ada yang mengatakan bahwa sebagai santri itu hanya bsa sami’na wa
atho’na (nurut mawon) mungkin ngalap barokah.
Sebenarnya
memang tidak ada yang salah dengan keputusan dewan asatidz, karena keputusan
pasti sudah dengan pertimbangan yang matang, juga memperhatikan kebaikan
bersama.
Toh
kenyataannya ujian sudah terlaksanakan dan tidak ada permasalahan pada santri.
Mungkin hany ada sedikit rasa nggrundel yang terbsit di hati santri (termasuk
penulis). Barokalloh...
Oleh: Habib Maulana
MA






COMMENTS