Media sosial saat ini
bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi ia bisa bermanfaat untuk umat, namun
disisi lain juga dapat mengahancurkan tatanan masyarakat. Seperti halnya yang sedang
dialami bangsa ini. Bangsa ini sedang diuji dengan berbagai masalah. Baik
permasalahan lokal maupun nasional. Yang mengatasnamakan isu agama maupun yang
berbau pilkada. Ditambah lagi dengan sikap masyarakat yang begitu mudahnya
percaya dengan media yang seolah-olah selalu benar dan kurangnya masyarakat
untuk melakukan tabayyun dalam menghadapi setiap berita yang di dapat
dari media sosial.
Beberapa waktu yang lalu isu-isu tentang penistaan agama dan Kitab Suci Al
Qur’an menjadi berita sehari-hari di media sosial. Terkait dengan berita tersebut
tentu masyarakat muslim yang kurang cermat dalam memilih dan memilah suatu
berita begitu mudah untuk tersulut amarah sehingga ikut-ikutan ingin melakukan jihad.
Tanpa tahu apa arti jihad itu sesungguhnya. Selama ini arti jihad sering
disalahartikan dengan memerangi orang-orang yang dianggap kafir dan tidak
sepaham dengan paham yang dianut. Padahal di dalam Al Quran telah dijelaskan
tentang kehati-hatian memvonis orang lain kafir. Bahkan jika tuduhan tersebut keliru,
justru yang menuduhlah yang sebenarnya kafir.
“Siapa
saja yang berkata kepada saudaranya,” Hai Kafir”. Maka akan terkena salah
satunya jika yang vonisnya itu benar, dan jika tidak maka akan kembali kepada
(orang yang mengucapkan) nya.”
(HR Bukari dan Muslim).
Hadirnya NU di tengah-tengah kondisi bangsa saat ini seakan menjadi penyejuk
keadaan yang sedang panas tak karuan. Sikap NU dalam menghadapi permasalahan
bangsa saat ini terkesan begitu santai dan tak terburu-buru dalam menghakimi
siapa yang salah atau yang harus diadili. NU sebagai organisasi kemasyarakatan
tradisional merupakan cermin dari bangsa Indonesia sesungguhnya. Bangsa yang
selalu mengedepankan toleransi dan keramahan seperti nenek moyang bangsa
Indonesia.
90 tahun lebih
NU mengabdikan diri untuk menegakkan dan mengkokohkan persatuan bangsa. Seperti
yang pernah dikatakan oleh Gus Dur “Seberapapun biayanya dan apapun
resikonya, NU tetap akan tetap menjaga keutuhan NKRI”, inilah komitmen yang
ditegaskan kembali oleh seorang tokoh yang sangat disegani dan menjadi panutan
warga Nahdliyin. Nilai-nilai nasionalisme dalam tubuh NU tersebut merupakan
gagasan besar Hadrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari saat mendirikan organisasi
kemasyarakatan ini. Fatwa jihad pada saat Bung Karno terdesak oleh penjajah saat
itu contohnya. Bung Karno dan para tokoh nasional meminta fatwa kepada Sang
Kyai mengenai hukum mempertahankan dan membela negara. Hingga tercetuslah fatwa jihad pada
saat itu.
Dengan kokohnya pendirian NU dalam bersikap inilah membuat pihak-pihak yang
kurang suka terhadap ketentraman warga Nahdliyin ini memanfaatkan media sosial
sebagai senjata untuk mengadu domba, sehingga mereka ingin persatuan yang telah
tertata denga rapi menjadi porak poranda. Tak hanya NU, bahkan negara
Indonesia. Karena kebnyakan masyarakat lebih percaya terhadap berita-berita
yang hadir dalam kehidupan sehar-hari tanpa bertabayyun atau mengklarifikasi
terlebih dahulu, maka hal ini sangat bisa terjadi.
Sebagai contoh, beberapa waktu lalu ketua PBNU KH Said Aqil Siroj bahkan
sempat difitnah dengan tuduhan beraliran syiah. Namun beliau tak serta merta
naik pitam dan menyikapinya dengan penuh ketenangan. Sikap yang demikianlah
yang beliau ambil dari nilai-nilai NU, toleran. Berbeda dengan warganya yang
tidak terima dengan tuduhan tersebut, sehingga banyak warga nahdliyin yang
justru marah dengan adanya berita tersebut. Hal ini dikarenakan sikap warga
Nahdliyin terhadap kyai sangat patuh dan ta’dhim (Sami’na Wa Atho’na).
Namun setelah Kyai Aqil Siroj mengajak warga NU untuk tidak termakan provokasi,
baru kemudian masyarakat dapat kembali tenang.
Peringatan Harlah (Hari Lahir) Nahdlotul Ulama yang ke 91 pada tanggal 31
Januari yang lalu dengan tema “Budaya sebagai Infrastruktur Penguatan Paham
Keagamaan” di Gedung Pusat PBNU menjadi momen evaluasi dan sebagai refleksi
perjuangan para tokoh pendahulu dalam memperjuangkan NU dan semangat
mempertahankan keutuhan NKRI hingga saat ini. Kiprah NU dan pesantren begitu
besar dalam sejarah kemerdekaan bangsa ini. Laffan (2003). sejarawan Islam terkemuka menelukan bahwa Islam memiliki kontribusi besar dalam sejarah panjang nasionalisme di Indonesia. Namun sayang, sejarah tersebut seakan tenggelam dan tergerus zaman, tak
meninggalkan jejaknya di buku-buku sejarah sekolahan.
Kemeriahan dalam merayakan Harlah ini tak hanya dilakukan dan dirasakan di
panggung utama serta di dunia nyata saja. Bahkan dunia maya pun ikut
meramaikannya dengan membuat slogan-slogan maupun gambar-gambar yang dapat
membangkitkan jiwa ke NU an. Sehingga NU dapat menggaungkan nama besarnya di
seluruh penjuru dunia maya. Inilah sisi positif dari media itu, bemanfaat untuk
kemajuan ummat. Tema yang diangkat pada harlah tahun ini sangat sesuai dengan
kondisi bangsa ini yang sedang krisis akan budaya dan semangat persatuan.
Semangat persatuan bangsa seharusnya kembali diserukan untuk melawan
pihak-pihak yang ingin mencoba mengahcurkan NU dan bangsa ini. Dengan
bersatunya semua unsur masyarakat, utamanya warga NU dengan nilai-nilai yang
telah diajarkan para pendahulunya akan membuat kondisi bangsa yang saat ini panas
penuh kegaduhan menjadi kembali tenang dan sejuk tanpa adanya perpecahan. (ch.lq).






COMMENTS