Oleh : Fatih Rif’at Basya
Dikisahkan, bahwa sahabat
Ibnu Mas’ud pernah menanyakan kepada Rasulullah SAW, apakah semua orang muslim
akan dapat berkumpul di surga nanti. Kemudian Rasulullah menjawab المرء
مع من Ø§ØØ¨ , bahwa ketika di surga nanti kita akan
bersama-sama dengan orang yang kita cintai. Bentuk cinta yang dimaksud bukan
kata cinta yang keluar dari seorang laki-laki yang ditujukan kepada seorang
perempuan, akan tetapi cinta yang dimaksud adalah cinta yang mempunyai
bukti-bukti di dalamnya. Bukti-bukti itulah yang dapat membuat orang yakin
dengan cinta dari diri kita.
Bukti yang pertama yaitu,من Ø£ØØ¨ شيئ اكثر من ذكر bahwa seorang yang mencintai sesuatu, maka seorang itu akan selalu
menyebut sesuatu tersebut. Sebagai contohnya, ketika seseorang mempunyai HP baru yang sesuai
dengan keinginan kita, maka seorang itu akan selalu menceritakan tentang HP
barunya kepada semua orang yang dia temui. Demikian juga dengan kita umat
Rasulullah SAW, untuk membuktikan kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, kita
harus sering menyebut beliau. Salah satu media yang dapat kita lakukan yaitu
sering membaca sholawat, walaupun kita belum sepenuhnya mengetahui makna dari
sholawat yang kita baca. Namun hal tersebut sudah dapat menunjukkan bentuk
kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, karena cinta itu tidak harus mengetahui
bentuk dari sesuatu yang kita cintai.
Bukti yang kedua yaitu, ان ÙŠØØ¯Ø± كلام ØØ¨Ø¨ÙŠ Ø¹Ù„Ù‰ كلام غيره. Bahwa orang yang cinta kepada
sesuatu, orang tersebut akan
memilih ucapan orang yang dicintai dan mengalahkan ucapan yang berasal dari
orang lain. Jika kita mencintai Rasulullah SAW, maka kita harus memperhatikan
semua sabda-sabda Rasulullah SAW. Semua yang beliau sampaikan harus kita
laksanakan dengan kesungguhan hati. Kita juga harus berpedoman kepada
sabda-sabda Rasulullah di dalam menjalankan ajaran-ajaran agama, karena
berpedoman pada sabda-sabda Rasul merupakan salah satu wasiat yang dikatakan
langsung oleh beliau Nabi Muhammad SAW sebelum beliau wafat.
Bukti yang ketiga, yaitu selalu menyebut namanya dengan
panggilan yang baik. Kita sebagai umat nabi Muhammad SAW, tidak boleh memanggil
atau menyebut nama beliau dengan menyebut namanya saja, hal ini disebabkan
karena memanggil Nabi Muhammad SAW dengan panggilan Muhammad merupakan salah
satu bentuk penghinaan terhadap beliau. Oleh karena itu sebagai penghormmatan
sekaligus tanda cinta kepada nabi Muhammad SAW, kita menyebut nama beliau
dengan ucapan Nabi Muhammad SAW, atau
dengan Rasul Muhammad SAW. Hal ini disebabkan karena nabi Muhammad SAW
bukanlah manusia biasa, beliau adalah utusan pilihan Allah SWT.
Ada sebuah cerita yang mengisahkan tentang seorang sahabat yang sangat mencintai
Rasulullah SAW, sahabat itu bertanya kepada beliau pada tahun terahir dari masa
kehidupan beliau, “Ya Rasulullah, apabila engkau meninggal nanti, apakah yang
harus aku lakukan sebagai seorang yang mencintaimu ? Apakah aku harus
mengikutimu meninggalkan dunia ataukah aku tetap hidup di dunia?”, kata
sahabat. Rasulullah SAW menjawab dengan
tafsil.
Pertama sahabat,
apabila pemimpin-pemimpin yang terpilih adalah sebagian dari golongan kamu, dan
pemimpin-pemimpin itu masih mau bermusyawarah dalam menyelesaikan segala
permasalahan, maka hidup di dunia lebih baik daripada mati. Kedua,
apabila pemimpin-pemimpin yang terpilih adalah orang-orang jelek dari golongan
kamu semua, dan orang-orang kaya hanya memperhatikan urusan mereka sendiri,
serta para wanita bertindak semaunya mereka, maka mati adalah pilihan terbaik
daripada hidup. Berdasarkan jawaban Rasulullah SAW, maka kita dapat mengambil
pelajaran, bahwa apabila kita masih memilih untuk hidup, dan kehidupan itu
adalah keidupan yang terbaik, maka kita harus memilih pemimpin dari golongan
orang-orang yang amanah.
Semoga bukti-bukti cinta yang terdiri dari tiga perkara di atas ada pada diri kita dan semoga kelak
kita termasuk
ke dalam golongan orang yang bersama Rasulullah SAW tinggal di surga.
Amin.






COMMENTS