Orang-orang zaman dahulu mempunyai keyakinan yang luar biasa dari bergegas
meninggalkan suatu perkara yang tidak mempunyai faedah, karena khawatir kalau
perkara tersebut justu menjadikan masalah bagi dirinya sendiri. Berbeda dengan
keadaan pada zaman sekarang ini, kebanyakan orang malah melakukan perkara yang
tidak ada faedahnya, dalam sehari ketika dikalkulasi mungkin hanya beberapa
persen saja perbuatan-perbuatan kita yang berfaedah. Itu semua terlihat ketika
kita bermain HP, mungkin setengah hari kita kuat bermain dengannya, tapi ketika
membaca al-Qur’an seperempat jam saja sudah merasa lelah luar biasa. Orang
dahulu mempunyai kemampuan yang kuat untuk meninggalkan perbuatan yang tidak
ada faedahnya, sehingga keyakinan yang ia punya menjadi kuat.
Kemudian penyebab yang menjadikan orang zaman dahulu mempunyai
keyakinan yang kuat adalah juga karena mereka berkumpul dengan orang-orang yang
yakin. Ketika kita ingin menjadi orang yang yakin maka kita juga harus mencari
teman yang keyakinannya juga kuat. Maksudnya adalah ketika kita berteman dengan
orang yang keyakinannya itu kurang,
dalam artian ragu-ragu (mamangan)
hidup kita juga akan menjadi ragu-ragu. Sekarang ini,
antara orang yang mempunyai keyakinan dan orang yang ragu-ragu lebih banyak
orang yang ragu-ragu. Janji Allah SWT sudah jelas mengenai jatah rizki yang
kita dapat, kita dijatah ini dan itu, itu semua sudah dijanjikan Allah kepada
kita, tapi terkadang diri kita ragu-ragu atas semua itu, kita masih berpikir
tentang nasib kita di esok hari bagaimana. Padahal kita itu ketika dilahirkan
sudah satu paket komplit.
Jadi orang dahulu mempunyai keyakinan yang luar biasa juga karena
faktor teman. Berteman dengan orang yang kuat akan menjadikan kita kuat,
berteman dengan orang yang sholeh akan menjadikan kita orang yang sholeh pula.
Ketika kita ingin menjadi orang yang berkeyakinan kuat maka carilah teman yang
keyakinannya juga kuat, jangan teman yang besar keragu-raguannya.
Penyebab selanjutnya adalah cara menyikapi
sebuah urusan. Misalnya orang zaman dahulu ketika mendapatkan sesuatu yang
besar dari urusan dunia, kemudian menyebabkannya merasa takabur, kecil ataupun
besar orang dulu itu menyebut keadaan tersebut sebagi cobaan dari Allah SWT. Berbeda
dengan diri kita yang ketika mendapat hal yang sama kok sombong kita
malah menyebutnya sebagai nikmat bukan sebagai cobaan. Umumnya ketika kita
mendapatkan hal seperti itu kemudian kita sesumbar kepada teman-teman kita
perihal hal tersebut. Di sini
terlihat perbedaan cara pandang antara orang zaman sekarang dengan orang
dahulu. Orang sekarang cenderung memandang hal tersebut sebagai nikmat,
sedangkan orang zaman dahulu menyebutnya sebagai cobaan, padahal pada dasarnya
antara cobaan dan nikmat adalah dua esensi yang saling berbeda dan tidak bisa
disamakan. Masalah yang sama tapi cara mensikapi berbeda akan beraakibat
berbeda, nah disitulah diri kita
masing-masing dituntut untuk pintar-pintar menyikapi
sebuah masalah.
Sikap dalam beragama juga mempengaruhi dalam memupuk rasa yakin,
orang dahulu ketika mendapatkan ilmu agama atau hasil akhirat walaupun itu
sedikit, mereka menganggapnya sebagai untung yang sangat banyak, jadi sedikit
saja ilmu yang ia dapat dilihatnya sebagai untung yang sangat besar. Berbeda dengan
diri kita sekarang, ketika mendapat ilmu sedikit, semisal dalam pengajian yang
hanya sebentar biasanya kita mengeluhkannya. Berbeda dengan orang zaman dahulu,
walaupun pengajiannya sebentar tapi mereka menganggapnya sebagai untung yang
sangat besar, sehingga mereka terpacu terus-menerus untuk mencari ilmu agama
walaupun itu sedikit.
Yang lebih hebat lagi kenapa orang dahulu mempunyai keyakinan yang
sangat kuat adalah karena mereka tidak suka memenuhi perut mereka (berlebihan)
dengan hal-hal yang halal, karena dikhawatirkan barang yang halal tersebut
tercampur dengan barang yang haram. Jadi walaupun barang tersebut halal mereka
tidak berlebihan, tapi diri kita
tidak seperti itu, kalau diandaikan mau itu halal ataupun samar bagi diri kita
yang penting adalah kenyang. Padahal walaupun sedikit tapi ketika kita
kemasukan barang yang samar akan menjadikan susah dalam mendapatkan sebuah
keyakinan. Nah, itulah juga penyebab kenapa ketika kita ingin yakin
seyakin-yakinnya merasa susah sekali.
Yang terakhir adalah rasa rendah diri yang sering diaplikasikan
dalam kehidupan keseharian orang dulu. Mereka ketika memandang orang lain
merasa orang tersebut adalah orang yang baik-baik, meyakini orang lain adalah
orang yang selamat, orang yang mendapatkan hidayah petunjuk dari Allah SWT.
Tapi ketika memandang dirinya sendiri mereka memandang sebagai seorang yang
kurang baik. Berbeda dengan keadaan sekarang yang kebanyakan orang memandang
dirinya sebagai individu yang paling benar dan paling baik, tetapi
ketika melihat orang lain merasa orang lain tersebut salah semua dan itu merupakan
cara pandang yang keliru. Jadi orang dahulu memandang orang lain sebagai
seorang yang sempurna sedangkan memandang dirinya sebagai orang yang selalu
kurang. Cara pandang seperti itulah yang kemudian mendatangkan rasa ingin
menjadi semakin baik seperti orang di sekitar
kita dan akan menghadirkan kekuatan dan keyakinan yang semakin bertambah.
Semoga diri kita dijadikan orang-orang yang mempunyai keyakinan
yang kuat, sehingga hidup kita semakin lama semakin tambah yakin dan mantab dan
bermanfaat bagi orang lain. (Fatih Hidayat)
Sumber : Pengajian
Rutinan Malam Selasa Abah Na’imul
Wa’in).






COMMENTS