Oleh : Ali Mafruhindo*
Sembah puji
dari hamba yang hina ini ke bawah telapak kaki sang pelindung jagat. Raja yang
senantiasa tenang tenggelam dalam semedi, raja segala raja, pelindung orang
miskin, mengatur segala isi negara, merata serta meresapi segala makhluk, nirguna bagi kaum Wisnawa, hartawan bagi Jambala, Wagindra dalam
segala ilmu, Raja diraja Asmara di dalam cinta berahi. Sang Yamadi dalam
menghilangkan penghalang dan menjamin damai semesta. Semoga nusantara terlindungi
dalam naungan sanghyang nan maha tunggal.
Pahamilah!! Satu
hal yang harus diakui betapapun pahitnya bahwa perang sepanjang kehidupan
manusia akan selalu terjadi silih berganti corak dan ragamnya. Ibnu Khaldun
menyatakan bahwa perang memang telah menjadi tabiat dalam sejarah kehidupan
manusia di dunia, dan merupakan Sunnatullah yang telah ada sejak
diciptakan sejarah manusia pertama dan turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya
sepanjang zaman. Michael Raner pernah
mengatakan : “Jika anda
menginginkan perdamaian, bersiap-siaplah untuk berperang.”
Perlu kita
ketahui bahwa di masa modernitas saat ini kegandrungan terhadap perang
konvensional atau perang militer terbuka mulai meredup pasca berakhirnya
perang dunia II (1939-1945), terutama
semenjak perang dingin (cold war) usai ditandai dengan jatuhnya Uni
Soviet. Bahwa perang merupakan bagian dari hidup manusia maka muncullah
beberapa model perang baru sebagai reaksi atas dinamika politik sebelumnya,
antara lain adalah proxy war, hybrid war, asymmetric warfare dan currency
war.
Mungkin saja
bisa dianggap terlalu klasik jika suatu negara di serang oleh negara lain
karena kepentingan gold, glory, gospel-nya dengan model perang konvensional
yang melibatkan militer dan alutsistanya, karena perang metode demikian akan
terasa sakitnya bagi warga negara yang terkena serangan hingga menimbulkan rasa
nasionalisme yang tinggi bagi warga negara tersebut dan tentu saja akan
memunculkan sebuah perlawanan yang terasa menyakitkan juga. Bukankah “cacing
pun akan meronta jika terinjak” dan “singa tetap akan mati sia-sia jika
tidak mengetahui daging yang ia makan terdapat racun di dalamnya”.
Perang asimetris (asymmetric warfare) atau smart power
adalah perang yang mesti kita waspadai di jaman modern seperti sekarang ini.
Perang ini mencakup aspek-aspek astagatra ( yaitu perpaduan antara
trigatra: geografi, demografi, dan sumber daya
alam).
Dan pancagatra : ideologi,
politik, ekonomi, sosial dan budaya. Perang asimetris selalu melibatkan
peperangan antara dua aktor atau lebih, dengan ciri menonjol dari kekuatan yang
tidak seimbang.
Ryamizard
Ryaccudu memaknai asymmetric warfare sebagai perang non militer atau
dalam bahasa populernya dinamai smart power, perang dengan metode
semacam ini merupakan perang non konvensional, tetapi memiliki daya hancur
lebih dasyat dari bom atom. “Jika Jakarta di bom atom, daerah-daerah lain tidak
terkena tetapi bila dihancurkan menggunakan asymmetric warfare maka
seperti penghancuran sistem di negara ini, hancur berpuluh-puluh tahun dan
menyeluruh,” ujar ryamizard (29/1/2015).
Sasaran perang
non militer ini tidak hanya pada satu aspek tetapi juga bermacam-macam aspek
yang dapat dilakukan secara bersamaan, atau secara simultan dengan intensitas
berbeda. Kelaziman sasaran pada perang asimetris ini ada tiga: pertama,
belokkan
sistem sebuah negara sesuai kepentingan kolonialisme. Kedua, lemahkan ideologi
serta ubah pola pikir rakyatnya. Dan ketiga hancurkan ketahanan pangan
dan energi security. Selanjutnya si penyerang akan menciptakan
ketergantungan negara target atas kedua hal tersebut food and energy
security maksudnya. Ketiga sasaran tersebut jelas bermuara pada kontrol
ekonomi dan penguasaan sumber daya alam sebuah negara. Hendaknya kita sebagai
warga negara yang menghendaki keutuhan NKRI berwaspada akan hal ini. Coba
kita perhatikan doktrin yang ditebar oleh Henry Kissinger di panggung politik
global: “control oil and you control nations, control food and you control
the people.”.
Hal yang perlu kita ketahui dan ingat baik-baik bahwa perang ini
juga meliputi aspek-aspek astagatra ( yaitu perpaduan antara trigatra:
geografi, demografi, dan sumber daya
alam).
Dan pancagatra : ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Bayangkan!!
Eurosentris sebagai keniscayaan, sebuah keniscayaan yang menggiring pola pikir
bahwa kebenaran menurut mereka hampir mutlak sebagai standarisasi ilmiah dalam
kajian pendidikan di dunia secara umum dan di Indonesia secara khusus.
Pengetahuan yang direkontruksi oleh kepentingan-kepentingan imperealis gaya
baru yang berlangsung secara masif dan sangat terstruktur bahkan berlembagakan
pasti meninggalkan ekses pada pola pikir bangsa yang tersetir dengan rapih
sebagai gelombang MAUT yang akan menghempaskan nilai-nilai kebangsaan dari
dalam menuju hegemoni kefakiran dan kelaparan akan budaya kultural yang ada di
suatu negara.
Penggiringan akan adanya kiblat keilmiahan yang dibawa oleh
penjajah yang segala sesuatu harus distandarkan dengan dunia barat, agaknya
salah bahkan kelewat salah walaupun tak menafikan adanya kebenaran
tentang pola pemikiran barat, namun kita patut waspada bahkan cenderung
berhati-hati dalam merealisasikannya di alam Nusantara. Para sesepuh dari tanah
jawa telah memfilternya, hal itu terbukti dengan adanya falsafah jawa yang
berbunyi Barat diruat, Arab digarap, jowo digowo yang berarti kita harus
memilih dan memilah bagaimana datangnya informasi baik itu yang bersifat ilmu
pengetahuan ataupun sistem budaya dari luar Nusantara bahkan harus bisa
memodifikasi agar nantinya tak bertentangan, tak menghilangkan nilai budaya
yang asli dari tanah air tercinta.
Agaknya kehati-hatian serta kreatifitas bangsa telah diamputasi
habis-habisan oleh hegemoni barat yang mengakibatkan gejolak yang tak kunjung
reda dalam masyarakat, nilai budaya lokal yang seharusnya dijaga dan dijunjung
tinggi oleh bangsa hangus terberangus oleh hegemoni keblinger itu. Matrialisme
sempit yang ditanamkan dalam generasi penerus sudah mencapai tingkat yang
sangat akut hingga mereka tak sadar bahkan tak tahu lagi asal usul mereka ada,
pun sudah memasuki sendi-sendi kehidupan yang sangat mengerikan dikarenakan
kepentingan-kepentingan serakah yang tiap detik dilontarkan oleh para pembesar
bangsa. Mereka tak lagi sadar bahaya apa yang mengancam kehidupan jika
produk-produk impor yang mereka telan mentah-mentah itu terus menerus
dikonsumsi tanpa dimasak terlebih dahulu.
Terakhir !! Agaknya kita sadari sekarang ini kita berada di masa
pesimis yang tinggi akan kemandirian bangsa baik budaya, politik bahkan
ekonomi, jati diri mulai terkikis, kategori cantik dan tampan seakan harus
berstandar Korea. Para penguasa yang berpolitik ala Machiavelli, para pekerja
dan buruh layaknya mesin mekanik, ketergantungan semakin akut. Negara kaya
dengan bergelimpangan orang miskin. Banyak undang-undang yang kurang pro
rakyat, Pasal 33 ayat 3 yang kurang konkrit. Apakah ini kebetulan?? THIS MEANS WAR.
*Penulis adalah santri PPLQ






COMMENTS