“Sebagai Panglima TNI, saya memberikan rasa hormat apresiasi yang tinggi
terhadap semangat dan motivasi yang ditujukan para santri sebagai generasi muda
bangsa yang terus memelihara dan meneguhkan komitmennya terhadap perjuangan
para pahlawan dan rasa kecintaan terhadap tanah air”, begitulah sambutan Jendral
TNI Gatot Nurmantyo saat menghadiri peringatan Hari Santri Nasional di Tugu
Proklamasi Jakarta beberapa waktu yang lalu. Dari sambutan seorang Panglima
TNI, seorang yang sepenuhnya bertanggung jawab dalam menjaga keutuhan bangsa
dan Negara ini, menunjukkan bahwa beliau mengakui akan sumbangsih nyata santri
terhadap NKRI ini.
Jika belajar dari sejarah masa lalu,
memang wujud perjuangan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan tidaklah
tanggung-tanggung. Semua mereka korbankan demi merdekanya bangsa dari
penjajahan. Apapun yang dimilki, mereka serahkan demi bebas dari kekuasaan penjajah. Bahkan nyawa sekalipun mereka taruhkan. Mereka tidak rela bila penjajahan masih
bertahan di muka bumi pertiwi, sampai anak cucu pun
merasakan pedihnya penderitaan penjajahan.
Lalu bagaimana dengan santri sekarang ini? Apakah juga sama seperti
dulu? Mengangkat senjata, menajamkan bambu runcing dan ikut maju ke medan pertempuran
melawan senapan para kompeni? Tentu saat ini tidak lagi seperti dulu saudaraku. Meskipun tidak lagi terjadi peperangan
secara fisik, namun perang saat ini tidak kalah mengerikan dan bahaya
dibandingkan dengan perang kemerdekaan dahulu. Saat ini bahkan perang yang
dilancarkan oleh negeri-negeri musuh NKRI semakin masif dan tersistem. Sangat
halus dan bahkan mungkin kita tak bisa lagi membedakan mana kawan mana lawan. Serangan ini sudah tidak lagi melalui darat, laut maupun udara.
Namun sudah masuk ke dalam ranah ideologi, politik, sistem pemerintahan, budaya
dan lain sebagainya. Bahkan sudah masuk ke setiap sudut pesantren. Dan Santri
saaat ini pun sudah mulai merasakan imbasnya. Apalagi dengan santri yang sudah
merasakan gadget dan membuka luas arus globalisasi saat ini.
Sebagai contoh, dari segi budaya yang masuk ke tanah air pun bisa menjadi
ancaman jika tidak disikapi dengan bijak. Budaya barat yang cenderung negatif
dan tidak sesuai dengan budaya luhur bangsa Indonesia ini bisa-bisa menjadi
nuklir yang dapat menghancurkan anak cucu, jika kita tidak pandai pandai
memfilternya. Budaya luar yang tidak sesuai
ini contohnya dalam hal berpakaian, bergaul antar jenis (yang bukan mahromnya), dan dalam menghormati orang yang lebih tua. Meskipun
tidak dipungkiri bahwa budaya barat pun ada yang positif, seperti dalam hal
kedisiplinan, menggunakan waktu secara maksimal, dan cara kerja mereka yang
sangat baik.
Tentu dengan masuknya budaya dari luar ini, kita sebagai santri harus bisa
memilih dan memilah mana yang baik dan sesuai dengan budaya bangsa, terlebih
sesuai dengan budaya pesantren yang telah diajarkan para pendahulu serta para
kyai kita. Tradisi-tradisi pesantren yang ada ini harus lah tetap dijaga dan
dilestarikan demi tetap tegaknya martabat dan citra diri bangsa di mata dunia.
Semboyan kaum santri “Almuhafadhotu ala Qodimis Sholih wal Akhdu Bi Jadidil
Ashlah” memang sangat lah tepat bila diamalkan dan diterapkan dalam
kehidupan bangsa dan negara NKRI ini.
Sebagai seorang santri
yang memang seharusnya patuh kepada peraturan pondok dan kyai, apalagi yang
sudah mengenyam bangku perkuliahan dan seluk beluk dunia kampus tentu sangat
mudah sekali terombang-ambing dengan keadaan. Seringkali budaya di perkuliahan
dan di pesantren berbeda bahkan bertolak belakang. Namun sebagai mahasantri itu
tentunya kita harus bisa mengambil maupun membuang sisi positif dan negatifnya.
Bijak dalam melangkah serta bijak dalam mengambil budaya baru dengan
berlandaskan semboyan tadi, justru lebih baik daripada dengan tangan terbuka
lebar membiarkan budaya luar masuk ke dalam kehidupan pesantren. Mungkin dengan
cara inilah sumbangsih kaum santri membela dan mempertahankan keutuhan bangsa
dan negara.
Wallahu a’lam. [Karis]






COMMENTS