Oleh
: Fatih Asy Syafi’*
Jejak langkah terukir di atas pasir, mengalir lembut mengikuti gerakan
kaki seorang laki-laki dengan tas menempel di punggung. Suara angin lirih
berbisik ketenangan pertanda sang dewi malam akan segera tiba, deburan ombak membawa
para ksatria cahaya keluar dari tidur siang untuk mengamankan malam yang gelap.
Udara dingin mulai menerusuk kulit ari seorang pemuda berkaus merah yang duduk
diam dengan mata sendu mencari ketenangan. Diam... entah apa yang ia pikirkan,
sudah jauh ia berjalan tanpa arah, mencari sesuatu yang ia sendiri tak tahu apa itu.
Deburan
ombak bercampur buih menghantarkan ia kembali kedalam gelombang ingatan yang
saling bersilang mengilukan kepala. Masih jelas dalam benaknya, gelapnya
ruangan dan indahnya siluet rembulan kala ia berbaring sendirian tak berdaya,
kain putih penutup jendela melambai halus menyeka angin yang masuk dalam
ruangan, beribu pertanyaan timbul dari kesendirian seorang pria malang diri. Bisikan-bisikan
yang semakin kuat berubah menjadi desingan-desingan tak tertafsirkan yang
membuatnya kehilangan kesadaran. Perih dan panas terasa membanjiri kepalanya, dalam
penglihatannya butiran-butiran bunga mawar mengalir jatuh keatas lantai. Ia
bingung dengan keadaannya sekarang. Perlahan jemarinya menyeka dahinya yang
semenjak tadi terasa membengkak seperti ada beribu beban yang berada di dalamnya.
“Apa ini........?”, ia memandang kearah noda merah
dan berbau anyir yang menempel pada jemari-jemarinya.
Ia merasa pandangannya berkunang-kunang dan
perlahan bayangan hitam membenamkan dirinya dalam dan semakin dalam menuju alam
yang tak ia kenali.
Ω
Lama ia duduk terdiam merenung di hadapan ombak
laut yang tak lelah menemaninya mendengarkan bisikan-bisikan dalam hatinya. Tak
sadar sebuah tangan terasa menepuk pundaknya.
“Nak...kamu baik-baik saja?”, suara renta terdengar
dari balik punggungnya.
Seketika ia menoleh ke arah asal suara itu, raut
wajah keriput yang termakan usia berhiaskan rambut putih yang disanggul tampak
menorehkan senyum yang lebih mirip menakutkan dibandingkan ramah dalam terang
malam yang berbalut sinar rembulan.
“Nak......?”, ucapnya lagi dengan nada bingung.
“Oh....iya
nek....”
“Kamu
baik-baik saja...?”
“Saya
baik-baik saja kok nek...”, timpalnya dengan senyum getir yang
dipaksakan.
“Oh...ya..ya..ya...sepertinya
kamu bukan orang dari daerah sini ya...? wajahmu tak seperti anak muda daerah
sini....?”
“Emm...iya nek, saya bukan dari daerah sini”, jawab sang pemuda sambil kembali menatap ombak
laut.
“Apa
yang kamu lakukan di sini sendirian...?”
“.............”
mulut sang pemuda diam tak bergerak.
Dalam
benak sang pemuda ia ingin menjawab pertanyaan tersebut dengan menceritakan
keadaannya sekarang yang tak karuan seperti banjir bandang yang melanda sebuah
kota, tapi mulutnya tak mau bergerak mengikuti keinginannya, mulutnya seperti
sedang terkunci.
Raut
wajah yang renta itu seperti sedang menterjemahkan sorot mata pemuda yang
sedari tadi menatap kosong kearah horizon.
“Mmm......begitu
rupanya..”, jawab sang nenek sambil
menganggukkan kepalnya.
“Nak......”,
sambung sang nenek.
“Ketika kamu mempunyai berbagai macam pertanyaan
tentang kehidupan janganlah kamu takut dan menghindar atasnya, tapi hadapilah
hal tersebut dengan keinginan yang kuat dalam hati dan pikiran mu...”, ia
terdiam sejenak.
“Karena sesungguhnya semesta akan berkerja sama
untuk menjadikan keinginan seseorang terwujud ketika pikiran dan hatinya
menjadi satu”, meneruskan kalimatnya.
Kata-kata itu terdengar bijak seperti seorang ibu
yang sedang menasihati anaknya yang sedang gundah. merdu dan menentramkan hati.
entah kenapa waktu disekitar mereka seakan berhenti,angin yang semenjak tadi
mengalir lirih, suara deburan ombak yang mengalun lembut menghilang tertelan
kesunyian dan sirna. Mereka berdua seakan terjebak pada dimensi dan realitas
yang sama sekali berbeda.
“Nek.....”
“Kenapa nenek mengatakan hal itu kepada saya...”
Dalam hati sang pemuda ia bertanya-tanya, kenapa
sepertinya nenek tersebut tahu apa yang sedang ia alami, bermacam-macam
perasaan muncul dan bercampur menjadi satu.
“Tak
semua kata-kata itu perlu ada alasan yang kuat untuk diucapkan....”, ucap nenek sambil
menatap kerah laut.
“Cukup
dengan menatap sorot mata saja sudah cukup menjadi alasan....”
Si
pemuda diam dan tidaklagi menatap horizon, ia menundukan kepala memikirkan
kata-kata yang ia dengar.dahinya mengernyit berusaha menterjemahkan hal yang
baru ia dengar.
“Apakah
yang aku lakukan selama ini salah nek...?”, kata-kata itu tiba-tiba meluncur
begitu saja dari mulutnya, seperti
mempunyai kesadaran sendiri.
“Kesalahan
merupakan bagian dari sebuah proses kehidupan yang sangat penting, janganlah
takut dengan sebuah kesalahan tapi belajarlah dari kesalahan, banyak dari
manusia yang menginginkan kebenaran tapi takut melakukan kesalahan dan
menghindarinya, padahal tanpa kesalahan kita takkan tahu apa itu kebenaran”
“Dan
satu hal lagi....ikutilah kata hati mu...”, kata nenek mengakhiri kalimatnya.
“Kalau
memang yang nenek katakan itu benar, saya harus bagai mana untuk mendapatkan
jawaban atas pertanyaan-peertanyaan yang selama ini mengganggu saya nek...?”.
Lama
ia terdiam dan menunggu jawaban dari pertanyaannya, satu menit..,dua menit lama tak ada jawaban yang datang, ia pun
kemudian menolehkan pandangannya kearah nenek. Bukan jawaban yang datang malah
rasa kaget dan takut yang ia dapatkan. Merinding sekujur tubuhnya mendapati
bahwa nenek yang dari tadi berbicara sudah tak ada lagi. Ia bertanya-tanya
kemana nenek tadi pergi. Berbagai prasangka muncul dalam benaknya tapi ia segera
menampiknya jauh-jauh, ia berfokus untuk
meresapi kata-kata yang ia dengar dari sosok yang ia rasa berbicara dengannya
sedari tadi yang sekarang entah kemana perginya.
Dalam
benaknya ia berfikir ketika memang kata-kata yang ia dengar tadi benar maka ia
akan selalu mendengar kata hatinya. Ia pun berdiri dan melanjutkan perjalan
dengan pikiran dan jiwa yang tak lagi gundah dan percaya bahwa semua pertanyaan
yang ia punyai akan terjawab dengan sendirinya melalui perjalanan yang tempuh. []
*Penulis
adalah santri PPLQ
Kelas
Alfiyyah Ula






COMMENTS