Oleh : Habib MMA
Pesantren
dan Ketahanan Ujinya
Pondok pesantren dikenal sebagai lembaga
pendidikan rakyat yang menekankan pada bidang agama yang menjadi panutan bagi
masyarakat sekitar. Kehadiran pesantren selain sebagai lembaga pendidikan atau
lembaga penyiaran agama, juga sebagai pusat sebuah gerakan. Pada masa
penjajahan kolonial Belanda, pesantren hanya dilihat sebelah mata, walaupun
mereka tahu bahwa lembaga ini sering menjadi tempat berkumpulnya orang banyak.
Hal tersebut dikarenakan menurut mereka pendidikan pesantren yang berorientasi
pada pembinaan moral dan kehidupan ukhrawi sungguh tidak sesuai dengan
konsep pendidikan mereka yang berorientasi pada peningkatan kecerdasan dan
kehidupan duniawi.
Seiring Perubahan sosial yang
semakin cepat sejak Indonesia merdeka dan perubahan sosial yang didorong oleh
kemajuan pesat IPTEK, bermunculan pula perubahan-perubahan dalam dunia
pendidikan. Banyak anggapan bahwa suatu saat pesantren akan lenyap dari peta
pendidikan Indonesia. Suatu anggapan yang tidak terlalu salah dan mungkin saja
bisa terjadi apabila tidak ditanggapi secara serius. Namun, satu hal sering
dilupakan bahwa pesantren yang telah bertahan selama berabad-abad itu terbukti
memiliki ketahanan budaya yang tangguh dan sistem kelembagaan yang lentur,
sehingga mampu beradaptasi dalam setiap perubahan.
Dengan berpegang pada kaidah “Al
Muhafadzotu ‘ala Qodimi As Sholih wa Al Akhdzu ‘ala Jadidi Al Ashlah”, yang
kurang lebih artinya “Merawat tradisi lama yang baik sembari mencari tradisi
lama yang lebih baik” menunjukkan bahwa pesantren secara epistemik telah sangat
maju dengan selalu melakukan recollection, yang secara filosofis berarti
mengumpulkan serpihan-serpihan masa lalu yang berupa tradisi, ajaran-ajaran
ulama’ dahulu kemudian merefleksikan dengan kondisi sekarang, sebagai upaya
ikhtiyar menyongsong masa depan.
Pendidikan
Karakter
Dunia pendidikan kita saat ini marak
membicarakan tentang pendidikan karakter. Persoalannya, bagaimana cara
membentuk karakter yang benar. Pendidikan karakter yang dilakukan lembaga
pendidikan sekarang ini hanya sebatas memperkenalkan nilai, belum sampai pada
penghayatan nilai-nilai itu, apalagi sampai menjadikan nilai-nilai itu sebagai
komitmen pribadi dalam kehidupan. Membentuk manusia yang bersifat percaya diri,
bertanggungjawab, kuat motivasinya, siap bekerja keras, ikhlas, jujur,
sederhana, rendah hati, berwawasan luas dan mampu bekerjasama adalah sederet
harapan yang ingin dicapai lembaga pendidikan dewasa ini, dengan mengusung tema
pendidikan karakter.
Menurut KH Salahuddin Wahid,
pendidikan karakter dapat ditempuh dengan mengenalkan nilai secara kognitif,
penghayatan nilai dan akhirnya sampai pada pengamalan secara nyata atau
afektif. Istilah pedagogiknya, dari generasis ke praksis. Untuk sampai ke
praksis perlu adanya proses batin yang harus terjadi dalam diri anak didik,
yaitu munculnya optisme yang kuat dalam mengamalkan nilai tersebut.
Pendidikan
Islam
Pendidikan Islam dapat dibangun atas
landasan nilai-nilai yang kukuh dan universal. Pengembangan dan penerapan ilmu
pendidikan Islam memerlukan etika profetik, yaitu etika yang dikembangkan atas
nafas nilai-nilai Ilahiyyah dalam penerapan dan pengembangan ilmu. Jika
disebutkan nilai-nilai tersebut antara lain, nilai ibadah, ihsan, masa depan,
kerahmatan, amanah, dakwah dan tabsyir.
Dalam World Conference on Moslem
Edication pertama di Makkah pada 1984, dirumuskan bahwa pendidikan
seharusnya bertujuan menimbulkan pertumbuhan total manusia secara seimbang
melalui latihan spiritual, intelektual, rasional diri, perasaan dan kepekaan
manusia. Tujuan akhir pendidikan Islam terletak pada realisasi kepasrahan
mutlak kepada Allah SWT pada tingkat individual, masyarakat dan kemanusiaan
pada umumnya. Tujuan akhir tersebut sejalan dengan pemikiran Syaikh Az Zarnuji
dalam kitab Ta’lim Al Muta’allim perihal Tawakkal.
Pendidikan seharusnya lebih
diorientasikan pada pembentukan karakter sempurna (Insan Kamil) dalam
diri manusia yang memiliki dimensi profan dan dimensi transenden melalui
transfer nilai. Keberadaan hati yang tulus perlu ditancapkan murid ketika
sedang menuntut ilmu tanpa memiliki tendensi duniawi, sebagaimana diajarkan
dalam kitab Adab Al ‘Alim wa Al Muta’allim.
Dengan
rujukan yang sama terdapat sebuah
kualifikasi yang ketat dalam menentukan standar minimal seorang guru. Orang
yang melakukan transformasi ilmu (guru) harus memiliki integritas dan kualitas
yang mumpuni guna menjalani profesinya. Syaikh Hasyim amat menekankan perlunya
profesionalisme guru, baik secara personal, profesional dan sosial. Seorang
guru diharapkan mampu menjadi uswah khasanah bagi semua orang disekelilingnya.
Keunggulan
Pendidikan Pesantren
Banyak yang tidak mengenal dan tidak
mengerti tentang pondok pesantren, sehingga mereka mempunyai penilaian yang
kurang tepat terhadap pesantren. Tetapi bagi pengamat perkembangan masyarakat
di Indonesia mengetahui bahwa tidak sedikit tokoh Nasional Indonesia yang lahir
dan tumbuh berkembang di pesantren. Mengapa dari pondok pesantren bisa mencuat
tokoh-tokoh sehebat itu? Tidak lain dan paling utama adalah dari sistem
pendidikannya.
Prof. Dr. H. A. Mukti Ali
mengutarakan ciri-ciri pendidikan pondok pesantren, antara lain: Adanya
hubungan yang akrab antara santri dengan kiyai, tunduknya santri kepada kiyai,
hidup sederhana yang benar-benar dilakukan, semangat menolong diri sendiri amat
terasa di kalangan santri, jiwa tolong menolong dan suasana persaudaraan yang
sangat kental, sangat menekankan kedisiplinan, rela menderita untuk mencapai
suatu tujuan, keagamaan yang baik diperoleh di pesantren. Seutas ciri-ciri yang
melekat erat pada pendidikan pesantren semacam itu sudah barang tentu baik
sekali. Mungkin itulah sebabnya mengapa dari pondok pesantren mencuat
orang-orang hebat setiap masanya.
Pondok
pesantren bukanlah lembaga yang berorientasi untuk mencetak santrinya menjadi
pegawai yang selalu diperintah orang lain. Pondok pesantren adalah lembaga yang
mencetak orang-orang yang berani hidup berdiri diatas kakinya sendiri. Santri
juga selalu disuguhi dengan arahan, suntikan semangat dan suri tauladan yang
baik dari seorang gurunya.
Jika
meninjau kembali konsep pendidikan dalam kitab karya Hadratus Syaik Hasyim
Asy’ari, bahwa tolak ukur keberhasilan seorang santri terletak pada seberapa
jauh santri mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya (‘Ilm Nafi’).
Dengan ukuran ‘ilm nafi’-nya, Kiyai Hasyim mensejajarkan dengan
pembentukan karakter yang masih ramai diperbincangkan dalam ranah pendidikan
Nasional. Goal-nya adalah
menciptakan manusia yang mempunyai integritas keilmuan yang memadai dan
mempunyai integritas moral sebagai bekal ketika santri terjun ke masyarakat.
Oleh
karena itulah, tidak berlebihan kiranya pesantren dikatakan sebagai
laboratorium pendidikan karakter tersukses sepanjang sejarah perjalanan pendidikan
Nasional. Karena dengan kosep pendidikannya yang telah mampu menjawab persoalan
pendidikan, bahkan sebenarnya persoalan tersebut telah dijawab sejak dulu
dengan praktek pendidikan pesantren.[]






COMMENTS