Oleh : Adnan N.A
Dalam pondok pesantren, santri tentu tidak akan asing dengan
kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan yang bertujuan untuk menggali,
mengembangkan, dan memupuk segala bakat dan potensi yg dimiliki oleh para
santri agar tidak menjadi sebuah "bakat yg terpendam", dan ternyata
diam-diam banyak santri berbakat yang dapat di aktualisasikan, yah, ajimumpung
masih di pesantren. Pihak pesantren sendiri sadar akan hal itu, hingga membuka
beberapa kegiatan ekstra seperti, hadroh, futsal, qiro'ah, habajum (halakah
ba’da jumah), kaligrafi, dan sebagainya yang dirasa memiliki banyak nilai
tersendiri jika dapat dikembangkan dengan baik.
Berkaitan dengan hal ini, PP. Al-Luqmaniyyah mengadakan sebuah
kegiatan yg dikenal dengan istilah Bulan Ekspresi Ekstra (BEE). Kegiatan yang
sudah berjalan sejak awal bulan Februari ini, menghadirkan beragam kegiatan,
seperti lomba, seminar, pameran, dan lain sebagainya yang dipersembahkan oleh
masing-masing ekstra dari naungan Pengembangan Sumber Daya Santri (PSDS). Tujuaatannya
ialah untuk meminimalisir kegiatan para santri di luar pesantren, supaya lebih
konsen di dalam pesantren dan tidak menyibukkan diri di luar pesantren.
Banyak sekali hal yang bernilai positif yang diperoleh dalam acara
BEE. Keluarga besar pesantren sangat mendukung dan mensupport
terlaksananya kegiatan tersebut. Penulis mencoba mencari komentar dari salah
satu peserta kegiatan BEE tersebut. "Saya mendapatkan kesan tersendiri
dapat nyantri di PP Al-Luqmaniyyah. Para santri tidak hanya di tuntut untuk
mendalami ilmu keagamaan Islam, akan tetapi di ajak untuk mengerti dan memahami
serta berusaha untuk menghadapi dunia yang sudah masuk pada zaman globalisasi
ini, dengan tantangan-tantangannya yg kompleks, tidak hanya persaingan dalm
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan di sektor ekonomi yang pada tahun
2015 ini sudah mulai dibuka pasar bebas (MEA) di mana persaingan pasar sudah
tidak sebatas dalam negri, akan tetapi lebih luas, yakni negara-negara yang
masuk katagori Asean. Situasi yang seperti inilah, santri harus benar-benar siap
menghadapi tantangan tersebut. Yah, tidak lain dengan mengeksplorasi
bakat-bakat yang ada pada santri tentunya, dengan senyum dan mantap dia
menyampaikan koment nya.
Menanggapi akan kegiatan itu, tentu ada sebagian pihak yang
mewanti-wanti kepada para santri khususnya, dan para penghuni pesantren umumnya.
Dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti itu, para santri diharap jangan sampai
terabaikan bahkan melupakan esensi dan eksistensinya sebagai seorang santri
"salaf" yang selalu menjunjung nilai-nilai keilmuan para ulama salaf
maupun kholaf. Artinya, selain mengembangkan kegiatan ekstra yang ada,
para santri diminta untuk tetap bertanggung jawab dalam mengemban tugas dan
kewjibannya ber-tholabul ilmi, melanjutkan apa yang telah menjadi
cita-cita para ulama terdahulu, menjunjung tinggi ilmu agama Islam dalam segala
kondisi. Mengingat apa yang selalu di sampaikan oleh salah satu ustadz
pesantren PP Al-Luqmaniyyah Ust. Kholid Mawardi Irma, S.Kom.I yang juga ketua
Dewan Pendikan di Pesantren di setiap akhir pengkajiannya, "jangan lupa
belajar". Sebuah pesan yang sangat dalam bagi penulis khususnya dan bagi
para santri umumnya.
Oleh karena itu, mengahadapi tantangan era globalisasi saat ini,
para santri di harapkan mampu menjadi aset yang berharga, yang mampu menjadi
tolak ukur dalam menghidupkan ilmu agama, baik dalam segi keilmuan agama maupun
umum, teknologi dan lain sebagainya. Jadikan manusia selayaknya manusia yg
hidup di zaman postmodern, ora daro wong"an, nanging dadio wong
tenanan.[]






COMMENTS