Oleh : Adnan NA
Di sebagian besar pondok pesantren salafiyyah, baik yang bertempat
di desa maupun di kota sekalipun, muhafadhoh menjadi salah satu bentuk dari
beberapa rangkaian acara haflah yang selalu menjadi acara inti yang kedua,
sebelum terlaksananya malam puncak yang dihadiri para ulama dan juga mengudang
beberapa syaikh yang akan memberikan petuah-petuah dalam mau’idloh hasanahnya.
Acara inilah yang sangat dinanti-nantikan oleh sebgaian besar santri. Karena, pada
acara muhafadhoh inilah seluruh santri akan ikut berpartisipasi dalam acara
tersebut.
Tiap kelas berusaha menampilkan lantunan-lantunan nadhom yang
menjadi ciri khas kelas mereka, seperti yang akan dilaksanakan di pon-pes
al-luqmaniyyah pada akhir bulan Mei 2015 ini, seperti kelas al-fiah dengan
nadhom alfiah ibn malik-nya, kelas imrithi dengan nadhom imrithi-nya, juga
kelas jurumiyyah dan kelas i’dadiy. Selain itu, penampilan mereka juga dihiasi
dengan baju seragam yang berbeda antar kelas, yang juga menunjukkan ciri khas
akan apa yang mereka tampilkan malam itu.
Cukup menarik jika hanya sekedar melihat muhafadhoh, dengan
berbagai macam penampilan, dihiasi dengan pernak-pernik serta dekorasi yang
memperindah bagian panggungnya. Namun, apa yang menjadi point penting dan
nilai-nilai estetika yang menjadi esensi muhafadhoh itu sendiri, sadar atau
tidak sering terlupakan oleh rakyat yang menjadi pelaksana dan peserta dalam
acara itu. Sebagian dari mereka ada yang menganggap bahwa pelaksanaan muhafadhoh
hanya sebagai ajang penampilan dan agenda ceremonial tiap tahun, bahkan ada yang
beranggapan bahwa muhafadhoh merupakan sesuatu yang diharuskan, tanpa melihat
asal-usul yang menjadi sebab terlaksananya muhafadhoh. “Ngga waww kalo ngga
ada muhafadhohnya,” kata mereka.
Pemahaman seperti di atas, tentu dapat dinilai salah karena melihat
muhafadhoh hanya dari Waww-nya yang ada di dhohir-nya, kebahagiaan dan
kebanggaan setelah naik panggung dan melantunkan nadhom-nadhom mereka dengan
baik. Namun, kebahagiaan dan kebanggaan yang seperti itu akan sangat mudah
terbalik, jika kita tidak berusaha untuk memahami dengan baik dan benar, juga
merasakan apa yang menjadi esensi muhafadhoh dan menjadi tradisi selama
berpuluh-puluh tahun. Inilah yang sangat dikhawatirkan oleh para guru-guru kita
terdahulu terhadap kita, kurang peka terhadap konsep yang menjadi nilai-nilai
esensial dalam muhafadhoh, begitupun terhadap tradisi-tradisi lain. “Banjur sing
arep dibanggakne kie opo?”, mungkin begitu ucapan Masyayikh kita jika
ditampakkan kepada kita.
Perlu adanya tinjauan ulang terhadap pemahaman seperti ini dan
merubah pandangan tersebut ke haluan yang diharapkan oleh guru-guru kita
terdahulu. Pandangan dan juga pemahaman yang keliru seperti tersebut di atas,
seharusnya menjadi opsi (paling) terakhir bagi kita dalam menghadapi tradisi
tahunan ini.
Yang menjadi fokus akan pandangan ini ialah pemahaman santri yang
baik dan benar, serta merasakan lebih dalam lagi dengan hati agar apa yang
menjadi niat dan tujuan kita menjadi sesuatu yang benar-benar memiliki makna.
Dengan ini, yang diharapkan ialah pelaksanaan tradisi guru-guru kita, dalam hal
ini muhafadhoh, tidak menjadi suatu hal yang sia-sia.
Pemahaman yang dimaksud, berupa sikap kita yang harus lebih
berhati-hati, menjaga dengan Haq terhadap apa yang kita muhafadhoh-kan,
terutama terhadap semua ilmu dan pemahaman yang kita dapatkan dari guru-guru
kita, yang dijadikan lantaran Allah SWT dalam menyampaikan ilmu-Nya kepada
kita. Karena, sudah menjadi kewajiban, untuk menjaga sesuatu yang datangnya
dari Yang Haq pula, selain melihat kata muhafadhoh sendiri yang berarti
menjaga. Setelah itu, pemahaman terhadap muhafadhoh bisa berupa wujud rasa
syukur kita yang paling mendalam atas muhafadhoh ini, dan selanjutnya bisa di
isi dengan harapan-harapan yang lain.
Tidak mudah untuk mengubah pemahaman itu seperti apa yang di
harapkan oleh guru-guru kita. Dibutuhkan kepekaan dzauq lebih mendalam untuk
selalu merasa, membaca, belajar dan selalu memahami tradisi yang telah menjadi
warisan Masyayikh kita. Karena, sebaik-baik penerus tradisi tidak akan bisa
mengalahkan keagungan seorang pencetus akan tradisi itu.[]






COMMENTS