Oleh: Ali Mafrukhindo
17
Agustus 1945 adalah hari dimana rakyat Indonesia telah menyatakan
kemerdekaannya, di hari inilah negara yang subur tanahnya, negara kepingan
surga dengan rakyatnya yang ramah, negara besar yang dilintasi garis
katulistiwa, negara yang memiliki ragam budaya, negara kepulauan terbesar
didunia telah lahir, negara yang telah dinamakan Indonesia. Merah putih telah berkibar rakyat bergegap gempita mengobarkan semangat
kemerdekaan bagai badai yang mengamuk bergemuruh begitu merdunya. Rakyat Indonesia
telah terbebas dari hiruk pikuk segala macam penjajahan yang telah dilakukukan
oleh iblis imperealis yang biadab.
17
agustus 1945 adalah sejarah besar yang tercatat di lubuk hati rakyat Indonesia
Dalam perjuangan yang tak mudah rakyat Indonesia telah mengalami berbagai
bentuk penjajahan yang tidak manusiawi. Di hari bersejarah itulah rakyat
bersorak sorai berbahagia karena Indonesia telah merdeka Indonesia telah
menjadi negara yang berdaulat. Namun proklamasi kemerdekaan Indonesia ternyata
tidak cukup membuat negara-negara imperialis diam begitu saja karena mereka
ternyata telah mengirim pasukannya lagi ke tanah yang subur ini berdasarkan
civil affairs agremeent, pada 23 agustus 1945 inggris dengan belanda mendarat
di sabang, Aceh 15 september 1945, tentara Inggris selaku wakil sekutu telah
tiba di Jakarta dengan didampingi oleh Dr. Charles Van Der Plas, wakil belanda
pada sekutu kehadiran tentara sekutu ini di boncengi oleh NICA (Netherland Indies
Civil Administration) atau pemerintah sipil Hindia Belanda yang telah dipimpin
oleh Dr. Hubertus J Van Mook. Dia dipersiapkan untuk membuka perundingan atas dasar
pidato siaran radio ratu Wilhelmina tahun 1942 (statkundige concepti atau
konsep kenegaraan) akan tetapi ia mengumumkan bahwa ia tidak akan berbicara
pada Soekarno yang telah dianggapnya bekerjasama dengan Jepang. Pidato ratu Wilhemina
tersebut menegaskan bahwa di kemudian hari akan dibentuk sebuah negara
persemakmuran yang diantara anggotanya adalah kerajaan Belanda dan Hindia Belanda
di bawah kepemimpinan ratu belanda. Akan tetapi api semangat kemerdekaan yang
sepenuhnya sudah terlanjur berkobar-kobar di hati rakyat Indonesia, negara
indonesia adalah negara untuk rakyat Indonesia yang tidak akan tunduk pada
kekuasaan negara lain, lebih baik berjuang merangkak berjalan lalu berlari
dengan gagah tetapi tetap independen dengan mengatasnamakan saya adalah
indonesia bukan persemakmuran dari negara manapun.
Perlawanan
harus tetap dilancarkan untuk mengusir sekutu dari ibu pertiwi ini rakyat Indonesia
kembali bertempur, kemerdekaan harus tetap dipertahankan dengan semangat jiwa
yang berkobar rakyat Indonesia berhasil mengusir tentara sekutu dari berbagai
wilayah yang telah diduduki oleh mereka, perjuangan para pahlawan bukanlah perjuangan
yang mudah namun menyisakan pertumpahan darah, menguras tenaga, fikiran, air
mata dan harta benda. Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan kemerdekaan melalui jerih
payah para pahlawan yang menghendaki kemerdekaan yang sesungguhnya untuk
generasi anak cucu bangsa Indonesia mendatang, mereka telah menitipkan agungnya
kemerdekaan Indonesia untuk kita dan tentu kita harus mengembannya dengan baik,
kita harus menancapkan sedalam-dalamnya di lubuk hati kita rasa perduli akan kemerdekaan Indonesia
dengan cara mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif.
Sedikit
mengutip kata dari bung karno “hai pemuda pemudi indonesia berapa jumlahmu ,
jawablah kami hanya satu” kata ini
sungguh menyampaikan pesan yang begitu sangat mendalam dan bermakna persatuan
di mana para pahlawan yang telah mendahului kita telah menghendaki persatuan
diantara berjuta-juta rakyat Indonesia yang berbeda suku, beda budaya, beda
agama dan kepercayaan, berbeda bahasa dan berbeda ideologi karena pada kenyataannya
Indonesia ini negara besar dengan jumlah penduduk yang begitu banyak maka tidak
menutup kemungkinan akan terjadi berbagai pergolakan yang didasari oleh
kefanatikan yang buta. baik fanatik kedaerahan, fanatik ideologi, fanatik
keagamaan dan lain sebagainya maka dari itulah pancasila dirumuskan sebagai
ideologi pandangan hidup yang menjadi landasan rakyat Indonesia dalam
bernegara.
Sejatinya
kita sebagai generasi penerus kemerdekaan Indonesia harus menjaga harapan dan
amanat yang telah disampaikan oleh para pahlawan yang bersusah payah dalam
berjuang untuk memerdekakan Indonesia, dengan jalan kita harus bersatu kita harus
merasa bahwa kita adalah Indonesia. Sejatinya kita harus mengenyampingkan
kepentingan kelompok, kepentingan organisai, kepentingan partai atau kepentingan
apapun demi kepentingan nasional. Kepentingan nasional harus tetap di utamakan
di atas kepentingan apapun.
Ini
adalah permasalahan yang begitu pelik yang terjadi di Indonesia saat ini dimana
kepentingan-kepentingan yang sifatnya pribadi untuk menguntungkan diri sendiri
dan kelompoknya itu sangat diutamakan terutama di jajaran para pejabat yang
mana mereka hanya mengutamakan kejayaan partainya dari pada kejayaan nasional
maka sungguh mereka saling bertikai untuk saling melemahkan lawan politiknya yang dianggap akan menghalangi kelangsungan
partai yang telah dibelanya, jalan ini ditempuh dengan cara memecah belah
partai lain memecah belah instistusi yang dianggap akan membahayakan
langkah-langkahnya. Padahal partai diciptakan untuk menjembatani segala kepentingan
rakyat, partai diciptakan untuk kesejahteraan rakyat untuk membangun kehidupan
rakyat , juga memberi pendidikan politik yang positif terhadap rakyat dan
diharapkan akan memberi kontribusi kebaikan terhadap rakyat.
Bahkan
tidak hanya dikalangan para pejabat dan partainya saja rasa fanatik buta juga
menjangkit dalam ranah organisasi kemasyarakatan dan organisasi keagamaan.
Perlu kita ketahui warisan mental dari para pendahulu kita adalah mental gotong
royong ini menjadi warisan yang sangat berharga yang mana rakyat Indonesia
diharapkan saling membantu saling menolong satu sama lain, namun yang sering
terjadi hanya karena berbeda organisasi keagamaan apalagi berbeda agama. hanya
karena berbeda organisasi kemasyarakatan ini menjadi alasan untuk seseorang
pilah pilih pada siapa dia akan berbuat baik dan pada siapa dia akan saling
membantu. Mari kita telaah dan kita renungkan dan kita simpan dalam hati
nasihat yang telah disampaikan oleh presiden ke empat Republik Indonesia Abdurrahman
Wahid, “tidak penting apa latar
belakangmu, kalau kamu bisa melakukan sesuatau yang lebih baik untuk semua
orang, orang tidak akan bertanya apa agamamu, apa sukumu, apa latar
belakangmu.”
Sebenarnya nasihat ini bisa dijadikan
bekal untuk kita mengisi kemerdekaan ini demi kejayaan dan kemajuan Indonesia.
Karena jika rakyat Indonesia masih meributkan perbedaan, mengunggulkan kelompok
apalagi mementingkan pribadi maka pergolakan akan terus terjadi permusuhan akan
terus berlanjut jika hal ini terus berlanjut, rakyat Indonesia tidak sempat
berfikir untuk memajukan bangsa tidak sempat bertindak untuk kepentingan
nasional ini teramat berbahaya jika terjadi dikalangan pejabat dan para
pemimpin yang mengutamakan kepentingan partai dan kelompoknya para pemimpin dan
pejabat tidak sempat memikirkan kesejahteraan rakyat, karena mereka sibuk
menyusun langkah dan strategi untuk
menjatuhkan lawan politiknya mereka hanya berperang untuk merebutkan
kejayaan masing-masing.
Tiga
setengah abad lamanya bumi Indonesia telah terjajah, tiga setengah abad
bukanlah waktu yang singkat bahkan ini adalah waktu yang begitu sangat lama tak
lain dan tak bukan, tentu kita semua tahu kenapa hal ini bisa terjadi tentulah
alasanya karena pada saat itu bangsa Indonesia belum sadar belum terbuka mata
akan melihat besarnya kekuatan persatuan dan kesatuan. Rakyat Indonesia saat
itu masih terpecah belah oleh berbagai suku dan kerajaan-kerajaan yang bahkan
justru suku –suku dan kerajaan ini masing-masing dengan mudahnya diadudomba
oleh pihak penjajah hingga mereka saling bertikai sehingga mereka tidak sempat
berfikir bagaimana cara untuk terbebas dari penjajah yang memper budak pribumi,
penjajah yang mengangkut sumberdaya alam, penjajah yang membungkam dan membunuh
kebebasan.
Maka dari itu sebagai rakyat Indonesia
yang telah merdeka melalui moment tanggal 17 agustus sebagai hari proklamasi
itu dibacakan dan lahirlah Republik Indonesia, hendaklah kita harus meneruskan perjuangan para pahlawan
dengan cara yang berbeda bukan lagi berperang menajamkan bambu runcing
untuk mengusir penjajah, bukan
memuntahkan peluru , bukan menghunuskan pedang , bukan meluncurkan anak panah ,
melainkan membangun dan menegakan pilar-pilar yang kokoh dalam jiwa kita
masing-masing untuk menegakan dengan gagahnya persatuan dan kesatuan, hingga
terciptalah kerukunan dan harmonisasi kehidupan sosial, tidak adalagi
perselisihan antar partai politik, tidak ada lagi saling mengolok-olok antar
organisasi, tidak adalagi kerusuhan antar agama, tidak adalagi perkelahian
antara suporter bola tidak adalagi tawuran antar pelajar dan tidak ada lagi
segala macam kegaduhan yang menciptakan ketidak nyamanan dalam kehidupan
bernegara. Dan bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya.[]






COMMENTS