“Jas Merah, Jangan Sekali-Kali meninggalkan
Sejarah”
–
Ir. Soekarno
Suatu masyarakat
atau bangsa tak mungkin akan mengenal siapa diri mereka dan bagaimana mereka
menjadi seperti sekarang ini tanpa mengenal sejarah. Selain itu dengan
mempelajari catatn sejarah, kita akan lebih menhargai apa yang kita miliki
sebagai bangsa. Ironisnya saat ini, walaupun secara akademis banyak generasi
muda terutama kaum muda Nahdlatul ulama (NU) yang jenjang pendidikannya cukup
tinggi.
Namun tidak sedikit di antara kita yang kepeduliannya kepada bangsa dan
NU cenderung menipis. Bahkan banyak di antara kita sebagai generasi-generasi
muda NU yang kepaten obor, kehilangan sejarah mengenai Nahdlatul ulama. Hal
itupun tidak bisa disalahkan, sebab orang tua-orang tua sekarang, -sebagian-
jarang memberi tahu apa dan bagaimana sebenarnya Nahdlatul Ulama itu.
Lalu apa usaha yang
telah kita lakukan, hanya berdiam dirikah. Jika sekarang kita tidak mencoba
memahami sejarah NU, apa Yang dapat kita ceritakan kepada penerus kita kelak
tentang pengertian-pengertian mulai dari sejarah bagaimana berdirinya NU,
bagaimana perjuangan-perjuangan yang telah dilakukan NU, siapakah tokoh yang
berperan dalam mendirikan NU dan mengapa Ahlussunah wal Jama’ah harus diberi
wadah di Indonesia ini. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama mempelajari dan
memahami semua catatan tentang Nahdlatul Ulama dimulai dari sejarahnya.
Nahdlatul ulama’ secara
etimiologi mempunyai arti kebangkitan ulama atau bangkitnya para ulama.
Sedangkan menurut istilah Nahdlatul ‘ulama sebagai suatu sebuah organisasi atau
jammiyah perhimpunan para ulama dan jama’ah ahlu sunnah wal jama’ah, yang
mengakomodir pada batas-batas tertentu pola bermadzhab, yang belakangan lebih
condong pada manhaj dari pada sekedar qauli. Pada dasawarsa pertama NU
berorentasi pada persoalan agama dan kemasyarakatan. Kegiatan diarahkan pada
persoalan pendidikan, pengajian dan tabligh. Namun ketika memasuki dasawarsa
kedua orentasi diperluas pada persoalan-persolan nasional.
Munculnya
Semangat Kebangkitan Nasional
Penjajahan panjang
yang mengungkung bangsa Indonesia menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk
memperjuangkan martabat bangsa, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Pada
tahun 1908 muncul sebuah gerakan yang biasa disebut Kebangkitan Nasional.
Semangat Kebangkitan Nasional terus menyebar ke mana-mana, sehingga muncullah
berbagai organisai pendidikan, sosial, dan keagamaan.
Di kalangan
pesantren muncul pula organisasi-organisasi pergerakan, seperti Nahdlatut
Wathan (Kebangkitan Tanah Air) tahun 1916, dan Taswirul Afkar tahun
1918 (dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri atau Kebangkitan Pemikiran).
Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (Pergerakan Kaum Saudagar).
Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan
adanya Nahdlatul Tujjar, maka Taswirul Afkar tampil sebagi kelompok studi serta
lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa
kota. Tokoh utama dibalik pendirian tafwirul afkar ini adalah tokoh muda, KH
Abdul Wahhab Hasbullah (pengasuh PP. Bahrul Ulum Tambakberas), yang juga murid
Hadratus syeikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Kelompok ini lahir sebagai bentuk
kepedulian para ulama terhadap tantangan zaman di kala itu, baik dalam masalah
keagamaan, pendidikan, sosial dan politik.
Tahun 1924,
kelompok diskusi Taswirul Afkar ingin mengembangkan sayapnya dengan mendirikan
sebuah organisasi yang ruang lingkupnya lebih besar. Hadratus syeikh KH. M.
Hasyim Asy’ari yang dimintai persetujuannya tentang rencana tersebut, meminta
waktu untuk mengerjakan shalat istikharah, menohon petunjuk dari Allah. Namun
dinanti-nanti sekian lama, petunjuk itu belum juga datang.
Peranan Kiai
Cholil Bangkalan
Setelah pertemuan
dengan Kiai Wahab yang meminta saran dan nasehat Kiai Hasyim sehubungan dengan
ide untuk mendirikan jamiyyah / organisasi bagi para ulama ahlussunnah wal
jamaah, hati Kiai Hasyim resah. Meski memiliki jangkauan pengaruh yang sangat
luas, untuk urusan yang nantinya akan melibatkan para kiai dari berbagai pondok
pesantren ini, Kiai Hasyim tak mungkin untuk mengambil keputusan sendiri.
Sebelum melangkah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga masih perlu
untuk meminta pendapat dan masukan dari kiai-kiai sepuh lainnya.
Gelagat inilah yang
nampaknya “dibaca” oleh Kiai Cholil Bangkalan yang terkenal sebagai seorang
ulama yang waskita (mukasyafah). Dari jauh ia mengamati dinamika dan
suasana yang melanda batin Kiai Hasyim. Sebagai seorang guru, ia tidak ingin
muridnya itu larut dalam keresahan hati yang berkepanjangan. Karena itulah,
Kiai Cholil kemudian memanggil salah seorang santrinya, As’ad Syamsul Arifin
(kemudian hari terkenal sebagai KH. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo) yang masih
terhitung cucunya sendiri. Pemuda as’ad diutus untuk menyampaikan sebuah
tongkat kepada KH. M. Hasyim Asy’ari di Tebuireng. Pemuda As’ad juga dipesani
agar setiba di Tebuireng membacakan surat Thaha ayat 23 kepada KH. M. Hasyim
Asy’ari.
Ketika KH. M.
Hasyim Asy’ari menerima kedatangan pemuda As’ad, dan mendengar ayat tersebut,
hatinya langsung bergentar. ”Keinginanku untuk membentuk jamiyah agaknya akan
tercapai,” ujarnya lirih sambil meneteskan airmata.
Waktu terus
berjalan dan pendirian organisasi tersebut belum juga terealisasi. Agaknya KH.
M. Hasyim Asy’ari masih menunggu kemantapan hati untuk mendirikan organisasi
itu. Sampai suatu ketika, tepatnya pada tahun 1925, pemuda As’ad kembali lagi
menemui Hadratus Syeikh.
”Kiai, saya diutus
oleh Kiai Khalil untuk menyampaikan tasbih ini,” ujar pemuda As’ad sambil
menunjukkan tasbih yang dikalungkan Kiai Khoili di lehernya. As’ad belum pernah
menyentuh tasbih tersebut, meskipun perjalanan antara Bangkalan menuju
Tebuireng sangatlah jauh dan banyak rintangan. Bahkan ia rela tidak mandi selama
dalam perjalanan, sebab khawatir tasbihnya akan tersentuh. Ia memiliki prinsip,
”kalung ini yang menaruh adalah kiai, maka yang boleh melepasnya juga harus
kiai”. Inilah salah satu sikap ketaatan santri kepada sang guru.
”Kiai Khalil juga
meminta untuk mengamalkan wirid Ya Jabbar, Ya Qahar di setiap waktu,” tambah
As’ad.
Kehadiran As’ad
yang kedua kalinya ini membuat hati Hadratus Syekh semakain mantap. Hadratus
Syekh bisa menangkap isyarat, bahwa gurunya tidak keberatan jika kelak ia
bersama kawan-kawannya mendirikan sebuah organisai/jam’iyah. KH. M. Hasyim
Asy’ari menganggap bahwa inilah jawaban yang dinanti-nanti melalui salat
istikharahnya. Namun sebelum keinginan itu terwujud, Kiai Kholil sudah
meninggal dunia terlebih dahulu tepatnya pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M).
Wallahu A’lam
Penyusun
: Er-Je al-Haqir (diolah dari berbagai sumber)






COMMENTS