Oleh : Ubaidillah Romdlony
Tahun
2014 akan menjadi tahun dimana Indonesia akan melakukan pesta demokrasi besar-besaran.
Pasalnya, selain memilih calon legislatif, rakyat Indonesia juga akan memilih Presiden
yang nantinya akan memimpin Indonesia. Pesta demokrasi yang dirayakan setiap lima
tahun sekali ini akan melibatkan masyarakat indonesia yang berpenduduk lebih
dari 200 juta jiwa untuk memilih Presiden yang kiranya pantas memimpin Republik
Indonesia.
Kampanye
terbuka telah dimulai 16 Maret 2014 lalu. Masing-masing koalisi partai membawa para
relawannya untuk menyambut datangnya pesta demokrasi terbesar rakyat Indonesia.
Orang-orang rela memadati beberapa sudut kota beserta atribut partai yang
disukungnya, seakan kampanye ini menjadi pesta bagi masyarakat, mengingat
moentum ini hanya dirayakan lima tahun sekali.
Pawai boleh-boleh saja tetapi harus mematuhi aturan yang ada. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang
Pemilu dan Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2013 tentang Kampanye Pemilu,
ada beberapa hal yang dilarang dalam berkampanye. Pertama,
melakukan kegiatan yang membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Kedua, mengganggu ketertiban umum. Ketiga, menjanjikan
atau memberikan uang atau materi lainnya kepada peserta kampanye. Keempat, memobilisasi
Warga Negara Indonesia yang belum memenuhi syarat sebagai pemilih.
Inikah
cara rakyat menyambut pesta terbesar negara Republik Indonesia ini? Sepanjang
jalan dipenuhi gambar calon legislatif. Jargon-jargon bernada positif
mendampingi foto para calon legislatif itu. Lantas, apakah harapan warga Indonesia
atas jargon-jargon tersebut akan terealisasikan?
Seakan
janji-janji manis yang dilantangkan oleh para pemimpin negara ini hanyalah ibarat
“Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu”. Cobalah refleksikan sejenak. Sebelum kita
memilih calon wakil rakyat, hendaknya kita mengukur mental dan kesiapan diri
kita sendiri dan lingkungan sekitar kita untuk kemudian mewujudkan perubahan
bagi negeri ini.
Jangan berbangga diri ketika kita ternyata masih bermental
pengemis, yang hanya akan memilih calon wakil rakyat ketika kita diberi
sejumlah uang atau harta yang justru akan menenggelamkan kita dalam lingkaran
kebobrokan negeri ini. Jangan menjadi orang yang ‘gumunan’ (mudah
takjub/heran), ketika melihat orang hebat langsung bilang ‘wow’, keren
atau sejenisnya. Terlebih jika orang ‘hebat’ tersebut kita ketahui dari sumber
media massa. Padahal media massa tidak selalu memberitakan kebenaran. Paling
tidak, kita sebagai rakyat yang ditugaskan untuk memilih wakil rakyat harus
mempunyai pengetahuan yang cukup dan berimbang sehingga calon wakil rakyat yang
akan kita pilih benar-benar mempunyai kemampuan untuk menjalankan tugasnya.
Kunci
kesuksesan pesta demokrasi ini di tangan kita, rakyat indonesia. Jangan sampai
salah memilih calon wakil rakyat karena bila kita salah sedikit saja akan berakibat
fatal setidaknya lima tahun ke depan. Marilah
kita ikut serta dalam menyukseskan pesta demokrasi rakyat Indonesia, salah
satunya dengan cara menjaga ketertiban umum dan menjadi pemilih cerdas dalam Pemilu 2014
mendatang. Karena tanpa ada peran aktif dari masyarakat Indonesia, maka
pelaksanaan Pemilu legislatif mendatang tidak akan terlaksana dengan baik dan
lancar.[]






COMMENTS