Oleh : M. Hakiki
Cinta
adalah anugerah Tuhan yang tak bisa dipungkiri lagi kesuciannya. Tidak ada ibu
yang benci pada anak, yang ada hanyalah kasih sayang dan cinta yang tulus.
Terkadang kita salah dalam memahami antara tekanan dan kasih sayang, yang pada
akhirnya semuakembali lagi pada cinta. Cinta yang tulus, cinta yang murni dan
cinta yang penuh dengan kasih sayang.
Semua
ini berawal ketika aku masih kecil, entah dari mana perasaan ini muncul begitu
saja, aku merasa kagum pada sepupuku alias anak dari bibiku sendiri. Pada saat
itu aku berumur 7 tahun dan dia 10. Awalnya aku berpikir ini hanyalah cinta
monyet biasa seperti yang ada di film-film sinetron, tetapi setelah kami berdua
masuk Tsanawiyyah, aku semakin tertarik padanya dan diapun nampaknya juga
mulai tertarik padaku.
“Chaa…!!!”
sahut teman kelas ku sambil membawakan sebuah surat. Tadinya aku berpikir dia
ini hendak menitipkan surat izin palsunya lagi, wajarlah ketika itu adalah
waktu malas-malasnya buat kami untuk belajar.
“Ini ada surat dari kakak kelas,,,” kata temanku tadi.
“Surat apa ? Paling-paling surat izin palsu kamu lagi,” jawabku sambil melihat-lihat isi suratnya. Setelah aku
melihatnya, ternyata dalam isi surat itu tercantum sebuah nama Basit Muzakky yangmerupakan nama sepupuku itu tadi. Akhirnya setelah kejadian itu dan 2
bulan PDKT, kamipun menjalin hubungan pacaran.Saat itulah aku dan dia benar-benar
terus terang dengan perasaan satu sama lain.
Seminggu
kemudian, aku dan dia dinner ke tempat yang paling romantis. “Dhe…!!!” panggil pacarkuyang sekaligus sepupuku sambil mengepalkan tangan
kanannya.
“Iya a’ apa ?” jawabku sambil tersenyum dan
membayang-banyang apa yang akan dia lakukan. Penasaranku
meninggi, aku menebak-nebak apa yang ada di dalam kepalan tangannya.
“Bisa tutup matanya dulu ngga?Bentarrrrrr aja,” katanya. Akupun mulai terbawa suasana
dan menutup mata. Tak berselang lama, aku buka mata dengan perlahan.Ternyata dia memberiku sesuatu yang spesial dan mungkin ketika
itu belum pernah ada orang seumuranku yang dikasih kejuatan seperti ini. Awalnya aku berpikir apakah ini lamaran, tapi jika ini
lamaran mana mungkin usiaku yang masih duduk di kelas 1 tsanawiyyah dilamar
oleh sepupuku sendiri.
Waktu
berjalan begitu cepat, 15 tahun berlalu akhirnya kamipun menikah. Saat itu aku
merasa ada yang kurang dalam hidupku.Rasanya kurang pantas bila sepasang suami
istri tidak mempunyai seorang anak. Faktanyasudah 7 tahun lebih aku menikah dan
selama itu pulaTuhan belum memberikan apa yang selayaknya aku miliki. Apakah engkau
Tuhan tak mendengar do’a yang selama ini aku lantunkan kepada-Mu? ”Wahai Tuhan,
tidakkah engkau kasihan kepadaku. Sudah sekian lamanya aku menunggu seorang
anak, rasanya tidak ada kewajibanku terhadapmu yang aku lewatkan. Oh Tuhan, karuniailah aku seorang anak yang nantinya bisa
menjadi bekalku di Hari Penghisaban. Amiiinnnnnn…… !!!”.
Sebulan
kemudian, ketika aku sedang mengerjakan rutinitas sebagaimana layaknya seorang
ibu rumah tangga,suamiku menghampiriku. “Ndha, sehat-sehat aja kan?” tanya suamiku ketika hendak
berangkat kerja.
“Iya
ayah…,” jawabku sambil memberikan senyuman manisku.
“Kita kedokter yah, tubuh bunda keliatannya kurang
sehat….!!!”, ajak suamiku. Setelah kami
pergi kedokter, sebuah berita kebahagiaan dtang.
“Selamat
istri anda telah hamil 3 minggu. Jaga kesehatan dan jangan dibiarkandia
mengerjakan pekerjaan yang berat-berat, karena itu bisa
membahayakan janin yang ada di kandungan istri anda,” kata dokter itu pada suamiku. Tetesan air mata mengalir
berkat kebahagiaanyang engkau berikan padaku,Tuhan.“Oh Tuhan, engkau memang Maha Mendengar danMelihat. Do’a-do’a yang selama ini aku minta darimu telah
engkau kabulkan.Terimakasih,Tuhan,” ungkapan isi hatiku.
Hari
demi hari aku jalani bersamamu oh anak-ku, tak ku sangka aku telah bersamamu 9
bulan lebih. Ketika aku hendak menyajikan makanan untuk suamiku, tiba-tiba bayi
yang ada di dalam perutku ini mulai memberontak seakan-akan dia ingin segera
keluar dari perutku. “Ayah, ayah, ayah…..!!!!” sahutku sambil menahan rasa
sakit ini. 15 menit lamanya aku menunggu dan menahan rasa sakit ini, suamiku
yang ketika itu baru selesai mandi langsung menghampiriku. Tanpa basa-basi
lagi, dia langsung memanggil ambulan dan mengantarkanku sampai kerumah sakit. Setelah
hasil pemeriksaan itu keluar, dokter menyarankan agar aku segera melakukan operasi
sesar.
“Dok, bagaimana keadaan istri saya?” tanya suamiku yang sebegitu khawatirnya kepadaku.
“Alhamdulillah
istri bapak baik-baik saja, tapi saya harap bapak harus segera mentandatangani
surat pernyataan ini agar istri bapabisa cepat-cepat di operasi sesar,” jawab
dokter itu. Kemudian setelah sekian jam berlalu, akhirnya operasipun selesai,
suara merdu tangisan anakku membuat diriku bahagia. “Selamat bu, anak ibu
laki-laki,” kata dokter ketika ia memperlihatkan anakku padaku.
Sejak
saat itu, aku mulai menghitung hari demi hari disaat anakku terlahir ke dunia.
Kini bayi mungil itu sudah berusia 12 tahun, 10 bulan lebih 6 hari 16 jam.
Malam itu aku melihat burung hantu yang hinggap di pohon depan rumahku. Dengan
mitos yang ada pada saat itu, biasanya kalau ada seekor burung hantu liar, maka
itu pertanda akan ada orang yang meninggal dari salah satu keluarganya. Pagi
harinya aku ceritakan pada suamiku, “Yah, semalam bunda liat burung hantu di depan rumah…!!!” ungkapku
dengan ekspresi khawatir.
“Lah
emangnya kenapa….?” tanyanya. Suamiku yang realistis tidak percaya akan mitos,
dia hanya percaya pada sesuatu yang masuk akal saja. Esok harinya aku
mengantarkan Fauzan ke sekolah, ketika itu Fauzan yang masih duduk di kelas 2 SMP
meminta dibelikan motor dengan alasan semua teman-temannya memiliki motor.
“Bunda….!!!” panggil anakku ketika hendak
turun dari mobil.
“Iya
sayang apa?” jawabku sambil menatap matanya.
“Aku
minta motor...,” ujarnya.
“Apa
? Adek kan masih kecil dan sekolah aja masih kelas 2 smp mana mungkin bunda
membiarkan adek bawa motor sendirian,” jawabku ketika itu. Setelah
pembicaraannya selesai, aku kaget dengan sikapnya terhadapku. Baru pertama kali
ini dia membentak ibunya sendiri, bahkan dia menutup pintu mobilpun dengan
keras.
Setelah
sampai di rumah, aku sengaja tidak memberitahukan kejadian itu pada suamiku.
Aku lebih baik berbohong dari pada harus jujur, karena ketika aku jujur,
suamiku pasti akan marah besar pada Fauzan atas sikapnya itu. Sejak saat itu
Fauzan jadi jarang pulang ke rumah. Hingga akhirnya sebuah telepon mengejutkan
datang. Fauzan mengalami kecelakaan sepedaa motor dan kini dirawat di Rumah
Sakit Adi Sutjipto Semarang. Ketika itulah aku mencoba berterus terang dengan
suamiku tentang apa yang terjadi.
Aku
tak kuasa melihat anak semata wayangku berbaring tak berdaya di rumah sakit.
Andai saja aku turuti kemauannya itu, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Diriku
semakin terguncang setelah diberi tahu dokter jika Fauzan mengalami Anterograde
Amnesia akibat benturaan keras. Ia pn tak mengenaliku, bahkan saat aku hendak
membelainya, ia menolaknya. Berbulan-bulan aku menunggu ingatannya, motivasi
yang selama ini aku berikan padanya tetap tidak ada hasilnya. Kini aku hanya
bisa berserah kepada Tuhan, Tuhan yang menciptakanku, Tuhan yang menciptakan
anakku, Tuhan yang menciptakan alam semesta dan Tuhan yang lebih tahu akan
segalanya.






COMMENTS