Oleh : Muhammad Hakiki
Aku penasaran dan bertanya-tanya,
“mengapa kebanyakan orang berbondong-bondong melakukan kebaikan dan mengapa Tuhan
menciptakan surga dan neraka?” Mayoritas orang mengasumsikan kebaikan akan
menuntun kita ke surga, sedangkan keburukan akan menuntun kita ke neraka. Seperti
kata Buya Hamka, “jika hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Jika
bekerja sekedar bekerja, kera di hutan juga bekerja.”
Ketika itu, wawasan
mengenai seputar kepercayaan dan siapa itu Tuhan sangat minim aku ketahui. Inilah
alasan mengapa pondok pesantren menjadi tempat hijrahku saat ini. Selama di
pondok, rutinitas yang biasa kulakukan lambat laun mulai kutinggalkan. Di lingkungan
seperti ini, aku memulai kehidupan baru, seakan-akan seperti bayi yang baru
dilahirkan ke dunia. Pasalnya, selama ini dunia luar hanya mengenalkan bagaimana
cara mencari uang yang mudah dan cepat yang tujuannya hanya mencari surga dunia
saja.
Warna pondok pada
dasarnya hanya satu dan akan tetap satu, tapi melihat keadaan itu semua, rasanya sedikit mustahil untuk
menjadikannya satu. Kadang di pondok, kita bisa saja bertemu dengan orang yang
ada pada jalurnya dan mungkin kita bertemu dengan bangsat-bangsat yang ada di
pondok. Tapi alhamdulillah, Tuhan telah memberikan dua orang pilihan untukku,
yang bisa menuntunku ke jalan yang benar. Orang-orang yang berada di sekitar pondok
terutama santri, sering memanggil kami kumpulan Odzoes, Odzius dan Odzues. Odzoes
bisa dikatakan seorang sufinya pondok dan mungkin bisa dikatakan belum pernah
melakukan dosa besar ataupun kecil. Odzius adalah orang yang paham agama, tapi
tingkahnya sedikit kecampuran bangsat,
sedangkan Odzues “aku” jauh dari kategori Odzoes dan lebih parah di bandingkan Odzius.
“Trong...trong...trong...” Suara kentongan tanda di mulainya ngaji.
“Tadi berapa kentrongan...??” tanya Dzoius kepadaku.
“Tiga....”
“Kesakkkk,,ksukks,,,brakkkk,,,,brukkkss,,,breekss,,,” Ia pun lari terkicir-kicir
dan tidak sadar kitab yang dibawanya salah, setelah sampai di pintu majlis,
tiba-tiba terdengar bunyi kentongan yang dipukul abah sekali lagi. Itu artinya
ngaji ditunda atau libur karena ada halangan.
***
Awan merah kekuning-kuningan menunjukkan malam akan segera datang,
semua santri bersiap pergi ke surau untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Kala
itu, sebelum pergi ke surau, dua orang sahabatku beserta aku di dalamnya,
berdiskusi tentang konser Slank di alun-alun kota.
“Odzues...Odzues,,,?” semangat yang tergambar dari muka Odzius
kepadaku, menandakan bahawa dia menginginkan sesuatu yang hal itu bersangkutan
denganku.
“Ada apa sih ribut-ribut Dzius..???” jawab kesal Odzoes terhadap Odzius.
“Apa....?? Konser slank..!!!” jawabku.
“Betul...betul...betul...”
Anak baru atau
sesuatu yang langka sudah tentu menjadi pusat perhatian semua orang, begitupun
dengan konser slank, yang hanya sesekali diadakan. Kamipun sepakat akan melihat
konser Slank malam ini, walaupun Odzoes hanya akan ikut bila berangkatnya
sesudah ngaji.
Langit menujukan
keindahan dengan bulan dan bintang yang menghiasinya, tak tahu kenapa aku
merasa angin malam tidak seperti biasanya, seperti ada peristiwa besar yang
akan terjadi. Akupun berterus terang ke Odzoes dan Odzius, tentang apa yang aku
rasakakan itu. Karena salah satu sahabatku ini terlalu alim, dia malah bilang,
“udah lah gak usah ke sana..!! mending di sini kita belajar bareng, lebih aman...”
“Belajar terus.....” kata Odzius menanggapi perkataan Odzoes.
”Lagian yang namanya konser pasti bakal terjadi ada peristiwa besar
lah..!!!” sambung Odzius. Mungkin ada benarnya juga perkataan Odzius, di konser itu pasti ada
peristiwa besar yang bakalan terjadi. Selepas itu, aku dan Odzius menghidukan
sepeda motor dan Odzoes menghampiri kami berdua dengan membawa sepeda motornya.
“Okee..!!! Aku ikut kalian, masa tiga sejoli nggak kompak...???” katanya sambil
tersenyum pada Odzius.
Lampu merah kuning
biru hijau, menghiasi indahnya panggung konser, kami yang berada di barisan
depan berteriak sesuka ria sambil mengikuti iringan lagu. Di sana, Odzoes pun
terlihat berbeda, seakan-akan bukan seperti Odzoes yang aku kenal sebelumnya.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, konserpun telah usai. Odzoes
yeng terlihat begitu lelah dan tak sanggup untuk mengendarai motornya, akupun
memutuskan untuk mengendarai sepeda motornya, karena aku melihat Odzius masih
sanggup untuk menunggangi sepeda motornya. Ketika hendak pulang, Odzius
memperlihatkan kelihaiannya dalam mengendarai sebuah motor. Tiba-tiba ketika ia
menarik gas dan melaju dengan begitu cepat, peristiwa nahas terjadi.
Akupun tidak bisa membayangkan dia selamat atau tidak, tapi yang
jelas dia terpental dari motornya dan kepalanya membentur trotoar. Melihat
kejadian itu, pikaranku langsung kosong tanpa tahu harus berbuat apa. Setelah
kejadian itu, selama dua hari aku dan Odzoes belum bisa bertemu dengannya.
Karena mungkin rasa bersalahnya kami, kami malu untuk melihatnya terutam
keluarga-keluarga Odzius.
***
Hari demi hari,
aku hanya bisa menyesali kejadian itu. Sudah seminggu dia berbaring di rumah
sakit tanpa tahu keadaannya seperti apa. Tiga hari kemudian tepatnya Kamis
siang, tanpa sengaja aku mendengar dokter yang menanganinya, memberitahukan
kepada keluarganya, kalau dia mengalami pendarahan otak. Aku hanya bisa
berharap, tuhan memberikan kesempatan kedua agar dia busa hidup kembali. Malam
itu di pondok, dalam pengajian abah mengucapkan “ketika orang islam mati,
seburuk apapun prilakunya. Pasti bakal menrima tempat yang layak, jika dalam
keadaan matinya husnul khatimah”. Setelah mendengar ucapan abah, aku hanya bisa
berdo’a “jika tuhan tidak menghidupkannya lagi, maka berilah kematian yang
layak untuknya”. Seketika itu, handphon abah berdering “kring,,,kring,,,kringg,,,,,”
abahpun langsung menjawab “as’salamualaikum....??”. setelah mendengar ucapan
orang yang menelepon tadi, terdengar suar pelan yang keluar dari mulut abah
“inna lillahi wa inna ilaihi rojiun”.
Tombak
telah melumpuhankan kebingasan singa, berusaha menerima tapi tak percaya.
Rasanya baru kemarin aku bercanda gurau dengannya, tapi takdir telah
mengambilnya. Pesonamu laksana sinar kaca, misikmu tercium samapi ke negeri
cina. Semoga pesonamu dapat menghilangkan rasa sakitmu.
Air rintik
berjatuhan dari langit dan awan mendung beriring keranda menemani
langkah-langkahku. Aku mengantarkan jasad sahabatku sampai ke tempat
peristirahatannya.
Air mata
yang tak bisa kusembunyikan lagi, menyaksikan lubang yang sedikit demi sedikit
terisi oleh tanah sampai jasadnya tak terlihat lagi.
Langkah
demi langkah, orang-orang mulai meninggalkan Odzius sendirian. Aku hanya bisa
terdiam dan melihat batu nisan seraya tak percaya dengan kenyataan ini.
Abah pernah
bilang “kita tidak akan kesepian di kuburan nanti, jika kita memiliki tabungan
amal shaleh”. Seketika itu aku sadar, amalan-amalan yang aku kerjakan akan di
dunia ini akan menjadi buah dia khirat nanti. Mungkin memang sulit menjadi baik
dan sempurna, tetapi selama kita berusaha tuhan akan memberikan jalannya untuk
kita.
***
Kesempurnaan
hakikatnya milik tuhan, tapi manusia harus tetap berusaha untuk mencapai
kesempurnaan itu. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, karana tuhan tidak
pernah tidur. Selama kita masih hidup, kitalah yang mengatur dan bertanggung
jawab dengan apa yang kita lakukan. Di kehidupan nanti, amal akan menjadi
penolong bagi kita. Selama itu tidak menyimpang dari kodrat yang telah di
tentukan, maka kita bisa mencapai dan bertemu dengan tuhan.[]






COMMENTS