Oleh : Karis
Menengok kepada sejarahnya orang yang sedang menuntut ilmu pada zaman salafunassholihuun.
Pada zaman dahulu ada orang yang sedang mencari ilmu hingga bisa diibaratkan
delapan puluh peti. Peti ukuran zaman dahulu itu sangatlah besar. Dalam
menuntut ilmu tadi tidak hanya cukup dilalui selama sepuluh, dua puluh, atau tiga
puluh tahun. Nah, orang yang sedang mencari ilmu sekian banyaknya itu setiap
hari merasa belum bisa menempelkan ilmunya, belum bisa memanfaatkan
ilmunya. Padahal ilmu itu sudah dicarinya
selama berpuluh-puluh tahun lamanya.
Delapan puluh peti ini ilmunya banyak sekali. Baginda Rasul Muhammad SAW
pernah bersabda, “Jika orang mengaji Tafsir Al Qur’an itu harganya mahal karena
ada makan-makan dan majelisnya, tapi jika ngaji ilmu-ilmu Fiqh itu agung
derajatnya. Kalau orang yang ahli hisab itu cerdas, karena ahli matematika. Jika
ahli ilmu bahasa Arab itu hatinya lemah lembut, dan itu sudah banyak”.
Seseorang tadi tak hanya menekuni satu bidang ilmu saja, melainkan segala
ilmu sudah dipelajarinya semua. Jadi sudah belajar berpuluh-puluh tahun dan ia merasa
masih saja ilmunya kurang terus, tidak ada yang menempel pada dirinya. Kemudian
orang tadi bermimpi, jika bahasa kita itu mimpi, sedangkan wahyu adalah bahasanya
untuk Nabi. Nah pada mimpi tadi, karena mimpinya orang-orang khusus, orang tadi
bermimpi yang pada intinya ada tiga hal mendasar yang harus dilakukan oleh kita
semua agar ilmu kita bisa bermanfaat, karena selama masih hanya berupa ilmu dan
belum ada amalnya maka ilmu itu belum bisa tumancep dalam hati seseorang.
Tumancepnya ilmu itu ketika sudah disertai dengan amal.
Syarat agar ilmu bisa manfaat, pertama dalam mimpi tadi ditegaskan
bahwa “Laa tuhib ad dunya fa laisat bidaaril mukmin.” Jika seseorang
ingin memanfaatkan ilmunya harus meninggalkan hal-hal keduniawian, karena dunia
itu bukanlah tempatnya orang-orang beriman.
Kemudian Nabi bersabda bahwa dunia itu bukanlah rumahnya orang-orang
beriman. Dunia itu rumahnya orang yang tidak punya rumah dan hartanya orang
yang tidak punya harta. Karena kenyataannya seseorang yang mempunyai rumah
mewah maupun harta banyak jika mati pun akan diwariskan kepada anak-anaknya.
Kedua, janganlah gampang
berteman dengan setan karena setan itu merupakan musuhnya manusia yang nyata
dan jelas, meskipun tidak secara langsung terlihat. Jika pada zaman Nabi dulu
bahkan bisa berbicang-bincang dengan setan, jauh berbeda dengan zaman sekarang
yang malah manusianya seperti setan itu sendiri. Kita jangan gampang membuat
permusuhan. Kepada siapa saja. Bahkan zaman dulu, sahabat Umar r.a pernah
dicaci oleh orang-orang kafir, dicaci karena dakwah beliau. Tetapi malah beliau
yang meminta maaf kepada mereka. Sampai seperti itulah beliau kepada musuhnya.
Karena yang menimbulkan permusuhan itu adalah hasutannya setan. Jadi ukhuwah
basyariyah kita itu harus selalu dijalin dengan baik. Jangan sampai terjadi
perpecahan. Apalagi jika hanya persalan sepele dan menjadi besar. Entah itu
dengan keluarga maupun tetangganya. Kalau kita gampang tersinggung, maka kita
dekat dengan setan.
Yang terakhir, tidak boleh membuat
hati orang lain sakit. Karena membuat hati saudaranya sakit dan menyinggung
perasaan orang lain itu bukan sifatnya orang mukmin. Jangan senang untuk
membuat orang lain tersakiti, entah dengan lisan maupun perbuatan. Karena orang
yang senang membuat orang lain sakit hati ini susahnya melebihi orang yang
disakiti tadi. Tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam. Dengan ketidaktenangan
itu, dalam berbuat apapun tidak akan tenang juga, sehingga dalam mengamalkan
ilmu pun tak akan memberikan kemanfaatan ilmu. Jadi jika kita tidak gampang
membuat orang lain tersakiti, insyaallah kita akan gampang memanfaatkan ilmu
yang telah didapatkan.
Semoga ketiga hal diatas tadi dapat mengingatkan kita agar dapat
mengamalkan serta menjadikan manfaat ilmu yang telah kita miliki. Karena
sebagai manusia yang ilmunya masih jauh dari kata sempurna, bahkan setetes dari
samudera keilmuan Sang Maha Pemilik Ilmu, kita harus senantiasa berusaha agar
menjadi lebih baik lagi. [ch.lq]
(Dikutip dari pengajian
rutinan Malam Selasa Abah Na’imul Wain)






COMMENTS