Oleh : Badrun Munajat
Bicara pemuda, tidak akan lepas
dari gejolak jiwa yang membara di dadanya. Semangat yang akan menjadi modal
utama ke mana dia akan melangkah dan bagaimana keteguhan hati
mempertahankannya. Dengan besarnya semangat yang dimiliki, ia bisa menjadi
seorang pahlawan atau bahkan bajingan sekalipun. Karena tidak ada seorang pun
yang bisa mencegah seorang pemuda beserta semangatnya.
Ustadz Kholid Mawardi memaparkan
pendapatnya tentang pemuda. Menurutnya, pemuda itu sebagai cermin dua arah atas
masa kecil dan masa tuanya. Apa yang menjadi sifat dan kebiasaannya di masa
muda, menjadi indikator bahwa masa kecilnya tidak jauh berbeda dari hal
tersebut. Begitu jkuga sifat dan kebiasaan masa tuanya yang bisa dilihat dari
apa yang dilakukan di masa mudanya.
“Pemuda itu di antara masa kecil
dan tua. Dia harus bisa mengambil sisi baik dari anak kecil dan orang tua agar
menjadi pemuda yang sebenarnya, bukan menjadi pemuda yang pemikiran dan
mentalnya kekanak-kanakan. Contoh, jika pemuda yang dapat mengambil sifat jujur
dari anak kecil, dan sifat bijak dari orang tua, maka ia bisa menjadi seorang
pemuda yang jujur dan bijak. Tapi jika mengambil sifat manja dari anak kecil
dan sifat gampang kesel orang tua, maka ia menjadi seorang pemuda yang
manja dan gampang kesel.” ujarnya.
Mengenai besarnya gejolak “semangat”
seorang pemuda, Ust. Kholid Mawardi menjelaskan bahwa dengan adanya hal
tersebut, seorang pemuda tidak bisa dicegah oleh siapa pun. Baik ketika akan
melakukan kebaikan maupun keburukan. Karena itulah, seorang pemuda bisa menjadi
orang yang ampuh dalam hal kebaikan juga bisa ampuh dalam hal keburukan. Tergantung
bagaimana arus mana yang akan ditempuhnya. Berbeda dengan anak kecil yang masih
bisa diiming-imingi oleh sesuatu, atau orang tua yang lama-lama akan
cape sendiri karena keringkihannya.
“Sebagai santri yang masih memiliki
jiwa muda, kita harus berusaha menjadi seseorang yang bermanfaat. Karena santri
yang ideal adalah yang bermanfaat. Kita ngaji tenanan, membantu pondok,
beribadah kepada Allah SWT, menjalankan perintah dan menjauhi larangan Gusti
Allah, itu semua adalah manfaat. Banyak orang tahu bagaimana bisa bermanfaat
itu, tapi untuk memilih bersikap seperti itu atau tidak, itu yang menjadi
masalah. Dan semua itu butuh perjuangan, tidak sim salabim.” Ujar pria
yang biasa disebut sebagai Hamka Muda oleh santri Luqmaniyyah dengan diiringi
candaan.
Tantangan
Ya, saya setuju jika kebanyakan
pemuda menyukai tantangan. Tetapi tantangan di sini bukan tantangan yang memacu
adrenalin dan asyik untuk dilakukan, melainkan tantangan yang harus dihadapi
agar masa muda kita tidak terbuang sia-sia. Bagaimana kita menaklukan tantangan
akan berpengaruh terhadap kita di masa tua.
Dijelaskan oleh Ust. Kholid, jika
tantangan santri sekarang itu ada dua yaitu eksternal dan internal. Tantangan
eksternalnya adalah semakin banyaknya keburukan yang dapat kita saksikan
seiring perkembangan zaman. Keburukan yang dapat ditemui di mana pun. Parahnya
lagi, hal itu semakin mudah untuk kita akses. Untuk tantangan internalnya
adalah diri sendiri dan bagaimana kita memeranginya. Kanjeng Nabi Muhammad SAW
pernah mengatakan bahwa perang melawan diri sendiri itu lebih sulit daripada
perang melawan musuh secara fisik (red. Kaum kafir). Itu membuktikan bahwa
melawan sesuatu yang ada di dalam diri sendiri itu sangatlah tidak mudah.
Masa Depan dan Tujuan
Banyak dari kita sebagai kaum muda
selalu memikirkan dan melakukan hal-hal yang dianggap sebagai bentuk persiapan
menghadapi masa depan. Kita selalu memikirkan bagaimana masa depan kita,
bagaimana masa tua kita. Tetapi tidak bagi Ust. Kholid, baginya di dunia ini
tidak ada masa depan.
“Menurut saya, dunia itu tidak ada
masa depan. Masa depan sejati yaa fi yaum ad-din, di sana masa depan
kita. Di sini (red. dunia) adalah suatu masa untuk berproses menuju ke
sana. Kita selalu dalam keadaan berproses, terus berproses menuju yaum
ad-din. Lha proses ke sananya adalah dengan iyyaka na’budu. Mentaati,
mengikuti, berusaha meng-iya-kan, melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan
berusaha menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya. Supaya masa depanmu di sana,
tidak ada putusnya”, papar Ust.Kholid yang juga sebagai ketua Dewan Pendidikan
(DP) PP. Al-Luqmaniyyah.
Sebagai santri muda, kita jangan
terlalu khawatir bahkan gelisah dengan masa depan kita. Yang terpenting adalah
bagaimana kita selalu beribadah kepada sang Khalik. Karena keyakinan yang
mendalam akan menumbuhkan rasa tenteram dalam diri kita.
Selain selalu mengaplikasikan iyyaka
na’budu dalam proses kita menuju masa depan sejati, kita juga harus
memiliki tujuan hidup yang jelas. Hal itu sebagai pegangan kuat agar kita tidak
terombang-ambing oleh kehidupan dunia yang “menipu”. Begitu juga saat kita
masuk dan berkecimpung di dunia pondok pesantren, kita harus memiliki tujuan
misalnya mencari ilmu, berbakti kepada agama, jadi orang baik, dll. Tetapi
menurut pantauan Ust. Kholid terkhusus bagi santri-santri Al-Luqmaniyyah,
banyak dari kita yang melangkah tidak sesuai dengan tujuan. Beliau menganalogikan
seorang santri ingin mengambil nasi di dapur, tetapi dia melangkah ke arah
bengkel, kan ora ketemu akal.
Bagi Ust. Khodid, tujuan terbaik
dalam hidup seorang hamba adalah apa yang sesuai dengan firman Allah SWT: Wala taquulanna lisyai`in inni faa’ilun dzalika ghoda. illaa an yasyaa
allohu wadzkur robbaka idzaa nasiita waqul ‘asaa an-yahdiyani robbi... (QS Al-Kahfi 23-24). Dari firman-Nya tersebut, kita tahu bahwa tujuan terbaik dalam hidup
adalah mendapat hidayah dari Allah SWT. Mau jadi apapun kita, entah pilot,
Kiai, guru, dosen petani atau yang lainnya, yang terpenting mendapat
hidayah-Nya. Sehingga, setiap apa
yang kita lakukan sesuai dengan koridor yang sudah ditunjukkan oleh Allah SWT.
Menyikapi paham radikal
Sekarang ini, kita melihat sudah
merajalelanya paham-paham yang membawa bendera Islam yang sarat akan kekerasan,
radikal, gampang memusuhi, dll. Target terbesar pemahaman mereka adalah kaum
muda. Bukan tanpa alasan, pemuda dengan segenap gejolak semangatnya mudah untuk
dipengaruhi dan diperalat. Di antaranya lewat bacaan-bacaan di media sosial
yang secara tersirat mengajak memusuhi golongan lain. menanggapi hal tersebut,
Ust. Kholid memberikan saran.
“Intinya hanya satu. Jikalau
mengajak kepada kekerasan, saling memusuhi, saling membenci, tidak usah
diikuti, titik !. Siapa pun yang mengatakannya. Entah itu Kiai atau bahkan
Habaib sekalipun. Meskipun dia disebut al-‘alim al-allamah, jika mengajak
kepada hal tersebut, jangan diikuti. Lebih baik mengikuti petani yang menyuruh sayang
kepada orang lain. Makanya undzur ma qola wala tandzur man qola itu ada
di situ. Jangan melihat orangnya. Jadi kadang kita kurang teliti dalam hal
maqolah itu. Padahal karepe salah satunya, mungkin seperti itu.”
Jelasnya dengan logat jawa sembari menunjukkan semangatnya. ”Jangan Lupa Belajar !”[]






COMMENTS