Muhammad
Khomsin : Mencari Barakah dengan Mengabdi.
Oleh :
Abdul Majid Zubairi
“prinsip saya itu gak muluk-muluk, jalani saja apa yang
ada saat ini, asalkan teman-teman santri disini bisa seneng, saya juga ikutan
seneng, udah gitu aja sih”. Ujar khomsin
Siang yang nyaman untuk tidur. Aroma tanah basah karena
hujan masih tercium segar di sudut sebelah barat dapur PP Alluqmaniyyah
Yogyakarta. Suara ‘terbang’ yang ditabuh terdengar tak beraturan dari arah
utara, menandakan ekstrakurikuler hadrah Ababil sedang latihan. Sementara itu,
tiga buah kompor gas seolah sedang berlomba mengeluarkan api paling besar. Dua
buah periuk ukuran besar dan satu panci ukuran sedang, berdiri kokoh di atasnya.
Sekitar 3 meter di sebelah baratnya, tampak sesosok pemuda memakai kaos oblong
warna kuning polos dan sarung motif garis dengan cekatan mencuci piring dan
gelas kotor yang menumpuk. Sesekali ia membuka periuk yang sudah sekitar satu jam dipanaskan,
sekedar memeriksa apakah nasi dan oyek yang ada di dalamnya sudah masak
atau belum.
Sosok
cekatan itu bernama Muhammad Khomsin, 23 tahun. Terhitung sejak 15 Januari 2012, pemuda
asal Dusun Malanggaten, Balesari, Windusari, Magelang ini menjalani
kesehariannya sebagai khodim atau abdi dalem di PP Alluqmaniyyah.
Awalnya ia tidak mengira akan menjadi khodim di
pesantren yang ada di tengah kota itu, apalagi kegiatannya berurusan dengan
dapur yang identik dengan memasak dan biasa dilakukan oleh perempuan. “Awalnya
saya mengira akan bekerja di sawah atau menggarap ladang milik Pak Kiyai. Eeh,
setelah sampai sini ternyata tempat kerja saya ada di dapur,” tutur
khomsin dengan tawa renyahnya.
Masa
awal menjadi khodim bukan masa mudah baginya. Nasi dan oyek yang gosong, hingga
telat memasak karena ketiduran sudah pernah dialaminya. Hal ini sangatlah
wajar, mengingat porsi masakan yang banyak, serta waktu kerjanya yang rawan akan serangan kantuk. Bagaimana tidak, saat sebagian
besar orang sedang menikmati tidurnya, khomsin justru mulai menanak nasi dan oyek yang
nantinya akan dimakan oleh seluruh penghuni pesantren, “saya itu masak dua kali
sehari, pertama sekitar jam 12 malam, selesai sekitar jam 2 pagi, terus masak lagi jam 12 siang” tambah khomsin.
Istilah pahit manis asam garam kehidupan, sedikit banyak
telah ia rasakan. Sebelum di Alluqmaniyyah, khomsin menghabiskan hari-harinya
dengan bekerja. Mulai pelayan rumah makan hingga buruh bangunan pernah ia
jalani. Dari situ banyak sudah manusia
dengan beraneka macam sifat dan watak yang ia jumpai. Dari yang menjanjikan
gaji lumayan hingga yang berakhir dengan penipuan. Bahkan ia pernah merasakan
pahitnya diberhentikan dari pekerjaannya tanpa alasan yang jelas, “Dulu pas
saya kerja bangunan di daerah ledok sambi, saya pernah kena PHK”. Kata khomsin
mengenang masa lalunya.
Khomsin yang dulu berbeda dengan khomsin sekarang. Di
sela-sela kesibukannya memasak, meskipun sulit khomsin tidak lupa menyempatkan
diri untuk mempelajari kitab-kitab miliknya, ini ia lakukan karena statusnya di
pesantren tidak hanya sebagai khodim, tapi juga santri. Artinya, ia juga
mengikuti kegiatan mengaji di kelas sebagaimana santri-santri lainnya.
Kini ia berada di kelas Imriti atau tingkat ketiga setelah
kelas I’dady dan Jurumiyah. Alluqmaniyyah adalah pesantren
pertama yang ia pilih sebagai tempatnya menimba ilmu agama.
Meski demikian, tidak jarang rasa malu dan minder hinggap
di benak khomsin. Hal ini disebabkan karena ini merupakan kali pertama ia
mondok dan mayoritas santri pondoknya adalah mahasiswa, “Di sini saya tidak
sekolah, saya hanya lulusan MTs, jadi kadang saya minder sama temen-temen di
sini yang mayoritas adalah calon sarjana”. Kata khomsin dengan wajah sedikit
murung. Akan tetapi khomsin tidak mau larut dalam keminderan, selalu ada pesan Ibu
Nyai yang menjadi penyemangatnya, “ra usah minder ndung, angger dilakoni
wae, urung mesti cah-cah sing kuliah kae iso
koyo awakmu (tidak usah minder nak, jalani saja, belum tentu mereka
yang kuliah itu bisa seperti kamu)” ujar khomsin dengan mata berkaca mengulangi
pesan Ibu nyai kepadanya saat sowan awal mondok.
Kemudian, yang patut ditiru dari sosok pemuda sederhana
dan ramah ini, selain penampilan sehari-harinya juga prinsip kesederhanaan yang
ia pegang, “prinsip saya itu gak muluk-muluk, jalani saja apa yang ada saat
ini, asalkan teman-teman santri disini bisa seneng, saya juga ikutan seneng, udah
gitu aja sih”. Ujar khomsin.
Di akhir cerita, anak ketiga dari pasangan Muhrojin (83)
dan Juriyah (50) ini mengajak kepada seluruh santri untuk berusaha saling
menghargai satu dengan yang lainnya, “pesan saya, mari kita berusaha menjadi
manusia sebenar-benar manusia, jangan suka menyusahkan orang lain, sukur-sukur
malah bisa membantu”. Tutur khomsin mengakhiri ceritanya.
Memang, dalam kaitannya dengan ilmu, santri dan
pengabdian bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, seperti
perkataan Kiyai Khudori dalam ceramahnya “jika ingin pandai maka belajarlah,
jika ingin ilmu yang manfaat maka tirakatlah, jika ingin ilmu yang
manfaat dan barakah maka mengabdilah”. Semua pilihan tergantung pada pribadi masing-masing,
pertanyaannya, kita pilih yang mana?.






COMMENTS