MENYOAL STATUS GANDA SANTRI
Oleh : Ubaidillah Romdhony
Penulis pada awalnya merasa kebingungan ketika akan menulis
artikel tentang ‘Status Ganda Santri’
dalam artian (status santri sekaligus mahasiswa) karena harus memandang dari
banyak sudut pandang, bahkan penuh dengan kata subyektif penulis. Maka dari itu
penulis paparkan terlebih dahulu siapa itu santri? Dan siapa itu mahasiswa?
Seorang santri di Indonesia adalah sosok yang tak bisa ditinggalkan
begitu saja, ia adalah bagian dari sejarah Indonesia, mujahid nasional yang
berani bertaruh jiwa dan raganya hanya untuk satu kemerdekaan indonesia.
Semangatnya dalam berjuang menakuti semua penjajah yang pernah datang ke
Indonesia, hingga Snouck Hurgronje belajar cara mengalahkan mereka. Santri
adalah bagian terunik yang pernah hidup di Indonesia, perjalanan hidupnya
sangat lain dengan perjalanan hidup manusia-manusia indonesia yang belum pernah
nyantri. Ketika berbicara masalah ukhuwwah, santrilah yang tau. Sebab,
mereka sepenanggungan, tidur bersama, makan dalam kebersamaan, bahkan melakukan
kejelekan pun juga dilakukan berlandaskan ukhuwwah. Itulah uniknya
mereka. Namun, ada satu pemahaman yang mengakar (baca: ideologi) di kalangan
santri, yaitu sendiko dawuh Kyai atau apapun kata kyainya santri akan
tetap mengikuti.
Sedangkan kalau kita berbicara dan mau berkaca pada sejarah,
kampus – sebagai representasi dari ‘gudang’ penggodokan kaum-kaum terdidik atau
biasa kita sebut ‘mahasiswa’ merupakan tempat yang ideal bagi lahirnya
sosok-sosok intelektual di negeri ini. Kampus juga menjadi basis sosial
perlawanan masyarakat terhadap tirani negara. Kampus juga menjadi tempat
lahirnya para pemimpin negeri ini, para pejabat, para pegawai terdidik, dan
orang-orang yang sangat mempengaruhi perjalanan bangsa dan negara ini.
Sebagian mungkin mengatakan berat apabila seseorang mempunyai
dua status Santri sekaligus Mahasiswa, akan tetapi ada sebagian lain yang menanggapinya
biasa-biasa saja. Bahkan justru hal ini menjadi sebuah tantangan tersendiri. Namun
menurut penulis jika mahasiswa dan santri dikombinasikan menjadi santri
mahasiswa atau penulis katakan ‘Mahasantri’ bukankah itu suatu hal yang luar
biasa? dimana santri mahasiswa akan tetap menjadi mahasiswa dengan tanpa
meninggalkan eksistensi kesantriannya dan juga menjadi santri tanpa mengabaikan
posisinya sebagai mahasiswa.
Berbicara identitas, maka secara langsung kita membicarakan tentang
suatu pembeda diantara keduanya, atau yang membedakan antara santri mahasiswa
dengan seseorang yang hanya menyandang status mahasiswa saja diluar sana. Sebagai
santri mahasiswa (Mahasantri) harus
mempunyai rasa bangga bisa hidup dalam pesantren. Karena tidak hanya fokus
terhadap kajian kitab klasik namun juga pada ilmu sosial dan yang lainya. Adanya
konsep pesantren ini akhirya mencetak santri yang unggul dalam hal agama dan
umumnya, maka bukan merupakan suatu yang aneh bila mereka mampu bersaing dengan
kalangan mahasiswa di luar sana, justru ini menjadikan motivasi tersendiri bagi
seorang santri sekalipun mahasiswa untuk menuntut dirinya memiliki talenta baik
dalam Ilmu agama dan Ilmu umum.
Fenomena berlainan didapatkan dalam dunia perguruan tinggi.
Dalam sistem pendidikan yang diterapkan kampus tidak ada perintah untuk sami’nā
wa atho’na pada dosen, sebagaimana yang lazim terjadi di pesantren oleh
santri terhadap kiai. Dalam dunia perkuliahan, kebebasan berpikir merupakan hak
yang dimiliki seorang mahasiswa. Tak ada hegemoni pemikiran yang dimiliki
seorang mahasiswa. Ide-ide baru seorang mahasiswa tidak bisa dikekang. Apa yang
dipikirkannya bisa berbeda dengan pemikiran dosen pendidiknya. Hal ini
merupakan suatu yang lumrah terjadi dalam dunia akademik kampus.
Akhlak adalah salah satu hal yang harus dijaga oleh seseorang
Santri Mahasiswa, karena dalam pesantren selalu diajarkan tata cara bersopan
santun terhadap orang yang lebih tua, terhadap teman sebaya dan menghormati
satu sama lain, dan hal inilah yang juga harus diterapkan dalam dunia kampus
baik dengan dosen ataupun mahasiswa yang lain. Aspek tersebut harus lebih
menumbuhkan kesadaran diri santri mahasiswa untuk menjadi pribadi yang hebat
dan bermanfaat, karena sudah ditanamkan pelajaran-pelajaran agama, tauhid,
akhlakul karimah, yang menjadikannya kuat untuk dapat berperan di
kehidupan masyarakat dan tak terombang-ambing dengan perbuatan biadab yang membuat
rakyat melarat, tetapi tetap menjadi agent of change, agent of
control yang akan menjadi pembesar-pembesar di negara ini bahkan seluruh dunia
dengan tetap mengedepankan etika dalam agama islam.
Dari uraian panjang diatas dapat disimpulkan bahwa ketika latar belakang santri dan mahasiswa berlawanan, maka kita harus berpikir lagi bahwa keduanya bisa dikombinasikan untuk saling melengkapi, memperkokoh, dan mengkritik masing-masing. Keberadaan pesantren dituntut untuk memback-up sisi kelemahan kampus dan begitu juga sebaliknya. Dengan kombinasi tersebut diharapkan munculnya insan yang mampu berpikir cerdas, kritis dan memiliki prilaku yang baik seperti yang diharapkan oleh bangsa ini.






COMMENTS