Oleh: Adnan
Nuril Anwar
“KAMI
TIDAK TAKUT!!” merupakan satu dari beberapa ungkapan yang akhir-akhir ini
sangat ramai di suarakan yang merupakan reaksi atas aksi pengeboman di Jalan
Thamrin Jakarta Pusat. Empat pelakunya, Dian Juni, Afif alias Sunakin, Muhammad
Ali, Ahmad Muhazan, pun tertembak mati dalam insiden tersebur. Dari sebuah
kantor berita yang berafiliasi dengan ISIS, Aamaaq News Agency,
ISIS mengklaim diri bertanggung jawab atas serangan bom di Sarinah, Jalan MH.
Thamrin, Jakarta Pusat yang menewaskan tujuh orang tersebut.
Sangat
disayangkan sekali jika melihat ISIS sebagai salah satu organisasi yang
bergerak atas nama Agama Islam melakukan aksi-aksi radikal bahkan terorisme. Hal
inilah yang menjadikan citra agama Islam tampak buruk sebagai salah satu agama
terbesar di dunia dengan narasi besarnya dalam mendakwahkan toleransi, ukhuwah,
dan persatuan bangsa.
Lalu bagaimana NU sebagai organisasi Islam terbesar di indonesia
dalam menghadapi isu-isu radikalisme bahkan terorisme yang akhir-akhir ini
sangat gencar terjadi? Apakah NU diam saja dan hanya menyimak kejadian-kejadian
yang telah dilancarkan oleh manusia-manusia yang tidak bertanggungjawab itu?
Jawabannya, tidak.
NU dan Aswaja
Nahdlatul Ulama atau yang lebih kita kenal dengan singkatan NU
adalah organisasi sosial-keagamaan (Jam’iyah Diniyah) yang berhaluan Ahlus
Sunnah wal Jamaah. Organisasi ini didrikan pada tanggal 31 Januari 1926 oleh KH.
Hasyim Asy’ari beserta para tokoh ulama tradisional di Jawa Timur. Sejak awal
berdirinya, KH. Hasyim Asy’ari menduduki posisi sebagai pimpinan dan tokoh
agama terkemuka di dalam NU. Tidak hanya beliau, salah satu penggerak di balik
berdirinya organisai NU adalah Kyai Wahab Chasbullah, putra dari Kyai
Chasbullah dari Tambakberas, Jombang.
Pernah suatu ketika Kyai Wahab Chasbullah matur kepada
kyainya, KH. Hasyim Asy’ari untuk mendirikan sebuah organisasi yang mewakili
kepentingan-kepentingan dunia pesantren. Namun ketika itu pendiri Pondok
Pesantren Tebu Ireng ini tidak menyetujui dengan alasan mendirikan organisasi
semacam itu belum diperlukan. Baru setelah adanya peristiwa perebutan Mekkah oleh
Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman bin Muhammad bin Sa’ud yang berakibat adanya
kebijakan-kebijakan baru yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah
wal Jamaah. Karena itulah beliau berubah pikiran dan menyetujui perlunya
dibentuk sebuah organisasi baru. Semangat untuk merdeka dari penjajahan Belanda
masa silam dan sebagai reaksi defensif atas maraknya gerakan kaum modernis di kalangan
umat islam yang mengancam kelangsungan tradisi ritual keagamaan khas umat Islam
tradisional juga menjadi ihwal yang melatarbelakangi berdirinya organisasi ini.
Sejak awal berdirinya, Nahdlatul Ulama memegang dan bersandar
kepada ajaran serta faham Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja). Para pendiri
organisasi ini melihat bahwa Aswaja menjadikan Al-Quran, Al-Hadist, Ijma’, dan
Qiyas sebagai sumber hukum dalam Islam. Ditambah lagi bentuk pola pikir yang mengambil
jalan tengah antara kaum ekstrim Aqliy (aliran yang mendasarkan
pandangan dan pemikirannya secara rasionalis) dan kaum ekstrim Naqliy (aliran
yang mendasarkan pandangan dan pemikirannya skripturalis). Karena itulah hingga
saat ini NU dikenal sebagai organisasi yang moderat.
NU dan Tantangannya
Melihat situasi dan kondisi zaman yang selalu bekembang, kedatangan
globalisasi dan modernisasi sebagai sebagian dari bentuk tantangan itu tidak
hanya dapat dipandang sebelah mata. Kedatangan
keduanya juga memiliki potensi lahirnya pemikiran dan aliran baru yang terbilang
nyeleneh. Seperti paham-paham
ekstrimisme dan radikalisme yang akhir-akhir ini sering bermunculan dalam
bentuk gerakan-gerakan yang mengatasnamakan agama. Keduanya lahir dari corak pemikiran
yang tidak seimbang dan menelan mentah-mentah arus globalisasi dan modernisasi
tanpa diimbangi pemahaman agama yang utuh dan mendalam.
Dikutip dari nujateng.com, mantan ketua umum Nahdlatul
Ulama, KH. Hasyim Muzadi dalam seminarnya dengan tema “Penanggulangan Paham Radikal
Atas Nama Agama”, mengatakan bahwa, “Salah satu embrio lahirnya radikalisme
adalah sikap takfiri. Semuanya
dianggap kafir ketika berlainan aliran dengannya. Mereka tidak memberi ruang
untuk kebenaran bagi yang lain.” Charles Kimball, seorang peneliti studi Islam dan
profesor di Wake Forest University, mengkhawatirkan hal serupa. Dalam bukunya
yang berjudul Kala Agama Menjadi Bencana, dia mengatakan bahwa ketika
para pengikut yang taat dan bersemangat mengangkat ajaran dan kepercayaan agama
mereka hingga ke tingkat klaim kebenaran
mutlak, mereka sebenarnya membuka pintu bagi kemungkinan agama mereka
itu berubah menjadi jahat.
Dalam ruang lingkup yang besar seperti Indonesia, gerakan dengan
pemikiran radikal seperti ini sudah berkembang ke penjuru daerah. Yogyakarta,
sebagai salah satu kota terbesar yang menyandang predikat ”kota pelajar”,
menjadi incaran bagi organisasi-organisasi nyleneh untuk menancapkan
kuku-kukunya. Kondisi di mana seluruh pelajar dari pelosok negeri berkumpul
untuk menimba ilmu di perguruan-perguruan tinggi, menjadi kesempatan baik bagi
mereka untuk merekrut dan kemudian mencekoki
pikiran-pikiran mereka dengan paham-paham kaum anarkis. Seperti halnya rokok,
hanya dengan modal keingintahuan dan tanpa didasarkan sifat kritis, berpikir
lurus serta aqidah yang kuat, mereka malah “mencoba” untuk mendaftarkan diri dengan iming-iming yang
ditawarkan, road to jannah.
NU dan Solution of Klimaks
Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai pondasi dasar yang dipegang
teguh dan telah di tanamkan oleh masyayikh sejak awal mula berdirinya NU
pada dasarnya sudah di rancang sedemikian kokohnya untuk menanggulangi dan
mencegah gerakan-gerakan yang membawa pemikiran dan paham nyelenehnya. Yang menjadi tugas
terpenting bagi para Nahdliyyin ialah bagaimana cara menetapkan langkah-langkah
strategis selanjutnya.
Dr. H. Waryono, M.Ag., Wakil
Rais Syuriah PCNU Yogyakarta saat ditemui IQRO’, Ahad (17/1), memberikan
penjelasan bahwa pendidikan menjadi salah satu jalan yang urgen sebagai upaya
itu. Beliau mengatakan jika dalam mentransformasikan aqidah Ahlus Sunnah wal
Jamaah, NU memilih utuk terus menggiatkannya dalam bentuk pendidikan. “Karena
melalui pendidikanlah masyarakat akan menyerap dan menerima serta
menstransformasikan nilai-nilai Aswaja ke dalam jiwa masyarakat. Pendidikan pun
sangat banyak bentuknya, tidak terbatas lembaga formal, majelis-majelis pengajian
pun menjadi salah satu jalan dalam mendakwahkannya,” terang dosen UIN Sunan
kalijaga Yogyakarta tersebut.
Hal ini, kata Dr. H. Waryono, M.Ag., telah di contohkan oleh founding
father Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah, dan kyai-kyai
yang lain. Mereka memilih untuk mendirikan pesantren sebagai wadah sekaligus pusat
berkembangnya aqidah Aswaja. Para kyai dan ulama mendidik dan menyebarkan ilmu
kepada santri pada khususnya dan masyarakat secara keseluruhan melalui
bentuk-bentuk pengajaran dan pengajian. Hal ini bukanlah tanpa alasan, karena
pendidikan berperan aktif sebagai media dakwah dengan tujuan bisa
ditransformasikannya nilai-nilai aqidah Aswaja dalam kehidupan bermasyarakat
yang real.
Jika ungkapan “di dalam raga yang sehat, terdapat jiwa yang kuat”
diambil sebagai analoginya, maka jiwa yang kuat adalah jiwa yang mendapatkan
makanan berupa aqidah yang lurus dan benar. Dengan ini, pendidikan aqidah
Aswaja diharapkan mampu membentengi masyarakat terhadap liarnya isu-isu dan pemikiran
radikalisme yang berakhir pada sebuah tindakan terorisme.
“Keberadaan teror bom yang ada di Sarinah kemarin menjadi tantangan
bagi organisasi NU. Apalagi tanggal 31 Januari mendatang organisasi Nahdlatul
Ulama memasuki umurnya yang ke-90 tahun. Namun, baiknya tantangan itu kita lihat
dari segi positifnya, di mana Nahdlatul Ulama harus selalu mengupayakan
langkah-langkah baru untuk membentengi umat,” ungkap Waryono saat ditanyai
tentang aksi teror di Jakarta kemarin.
Pendidikan yang telah diterapkaan oleh masyayikh kita pada prinsipnya sudah menjadi suatu langkah awal
yang strategis untuk melawan paham-paham radikalisme. Akan tetapi, tidak
menutup kemunginan masalah berikut tantangan di masa depan akan datang dan
pergi dengan spesifikasi dan sifatnya yang selalu berubah dari zaman ke zaman.
Jika dahulu, para sesepuh berjuang dengan membangkitkan semangat keislaman,
membakar semangat juang umat, dan memajukan bidang pendidikan dengan mendirikan
ratusan, bahkan ribuan pesantren dan sekolah-sekolah. Mungkin, apa yang harus
diperjuangkan oleh generasi sekarang ini dan ke depan akan berbeda. Keilmuan
yang luas serta nasihat serta pesan dari para kyai dan sesepuh akan menjadi
suatu bekal yang kuat dalam menyambut tantangan itu. Yang
menjadi tugas ke depan ialah, “Sudah siapkah generasi muda mendatang menghadapi tantangan tersebut?”[]






COMMENTS